Minggu, 05 April 2015

PENGUKURAN KINERJA BANK SYARIAH

Berbicara tentang bank syariah tentu tidak lepas dari yang namanya kinerja bank syariah itu sendiri. Bank syariah yang kita kenal ada Bank Muamalat, bahkan beberapa bank konvensional kini telah membuka Bank syariah baru seperti Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah, BNI Syariah, BCA Syariah, Bank Mega Syariah, dan lain sebagainya. Perkembangan Bank Syariah di Indonesia ini pada dasarnya tidak terlepas dari kinerja daripada karyawan ataupun pegawai bank syariah tersebut. Namun dalam perkembangannya ada sesuatu yang harus ditinjau kembali terkait dengan kinerja bank syariah yang ada saat ini.
Sebagaimana pengukuran kinerja bank syariah yang ada hanya didasarkan pada pengukuran kinerja bank konvensional. Seperti pengukuran kinerja tradisional ataupun balance scorecard. Nah, kalau sudah seperti itu apa bedanya bank syariah dengan bank konvensional lainnya? Walaupun seiring berkembangnya zaman, pengukuran kinerja bank syariah sudah mulai bermunculan, seperti CAMEL, Intellectual Capital ini masih belum mampu untuk menjelaskan dan mengungkapkan kinerja dari Bank Syariah itu sendiri. Karena metode-metode di atas saya rasa hanya disarkan pada angka-angka saja, hanya di dasarkan pada kepentingan pemilik modal saja.
Namun kita juga harus memperhatikan ada indikator lain yang harus diukur dalam penilaian kinerja bank syariah itu sendiri. Saya rasa bahwa kinerja bank syariah juga harus bisa memperhatikan “kesejahteraan karyawan”. “kesejahteraan” di sini bukanlah sejahtera dalam hal materi, namun juga dalam hal non materi. Contohnya kebahagiaan karyawan ataupun nasabah yang menabung ataupun yang melakukan pembiayaan di Bank Syariah. Karena kita tahu bahwa orang yang bekerja di Bank itu seperti kerja rodi. Turun pagi, pulangnya malam. Nah di sini kita lihat bahwa orang yang hidupnya selalu dipacu untuk kerja, kerja, dan bekerja ini akan mengalami tingkat kejenuhan yang cukup signifikan. Kita tak tahu apa yang dirasakan oleh para karyawan ataupun pegawai bank syariah di sini. Apalagi pegawai bank syariah dituntut untuk bisa mencapai target, baik itu target jangka panjang maupun jangka pendek. Target untuk mendapatkan nasabah yang melakuakan pembiayaan ataupun yang mau menabung di bank syariah. Dari tuntutan demi tuntutan target demi target, akhirnya bank syariahpun melakukan hal-hal yang tidak sesuai lagi dengan prinsip bank syariah.
Back to Penilaian Kinerja........
Intinya bahwa dalam hal penilaian kinerja bank syariah haruslah memperhatikan hal-hal yang non materi juga. Karena terkadang hal-hal yang bersifat non materi itu sifatnya substansial. Namun memang pada dasarnya untuk merumuskan sebuah konsep penilaian kinerja bank syariah itu sendiri memang tidaklah mudah seperti membolak-balikan tangan, merumuskan konsep pengukuran kinerja bank syariah membutuhkan usaha yang lebih keras lagi. Saya di sini mencoba menawarkan sebuah konsep untuk penilaian kinerja bank syariah. Saya beri nama dengan “JAMAL” (Jujur, Amanah. Muamalah, Adil, dan Lemah Lembut).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar