Senin, 29 September 2014

Menikahlah Sebelum Terlambat

Jodoh, kematian dan rezeki adalah rahasia Allah yang tak bisa ditebak atau prediksi oleh siapa pun makhluk-Nya di bumi ini. Jangankan hanya sekelas dukun, paranormal, mentalis atau profesi sejenis lainnya, Rasulullah Saw sendiri dan para Nabi sebelumnya sama sekali tak diberi bocoran oleh Allah Swt tentang hal ini. Di antara hikmah dirahasiakannya ketiga hal itu adalah agar seluruh umat manusia senantiasa bersemangat di dalam mengupayakannya. Agar bersegera dalam bekerja secara keras, cerdas dan ikhlas. Sebab dengan kaya, akan banyak amalan yang bisa dieksekusi. Apalagi dalam Islam, amat banyak ibadah yang hanya bisa dilakukan jika pelakunya kaya, dan tak bisa dilakukan oleh umat yang keadaannya sebaliknya; miskin. Kematian dirahasiakan jadwalnya agar insan yang hidup selalu istiqamah dalam kebaikan. Sebab tak tahu, kapan nyawanya akan dipanggil. Bisa dibayangkan, jika seseorang mengetahui jadwal kematiannya, tentu akan banyak ketimpangan yang terjadi dan ketakutan massal sebab sakit yang amat sangat ketika dicabut nyawanya oleh sang Izrail. Pun dengan jodoh. Dirahasiakan (dengan siapa, bagaimana dan kapannya) agar manusia selalu beramal kebaikan, memperbaiki diri dan melayakkannya, serta berupaya semaksimal mungkin dalam mengikhtiari jodoh. Karena, meski jodoh tak akan tertukar, ia tak serta merta diturunkan dari langit ke tujuh. Siapa benar dan sungguh-sungguh mengupayakannya, maka Allah Swt pun akan mendatangkannya sesuai dengan kebenaran dan kesungguhan upayanya itu. Sejatinya, jodoh tak cocok dikaitkan dengan kata terlambat. Karena semua yang terjadi atau luput di muka bumi ini, ada dalam kendali Kuasa Allah Swt. Semua pastilah memiliki hikmah yang banyak, di balik kejadian ataupun luputnya sesuatu. Maka, yang dimaksud adalah menyegerakan prosesnya. Baik segera dalam mempersiapkan diri, bersegera dalam mengikhtiarkannya, juga tak berlama-lama ketika peluang sudah ada di depan mata. Pasalnya, amat sangat banyak penundaan terkait jodoh yang akibatnya fatal. Meskipun, lagi-lagi, hal itu juga termasuk dari bentuk Mahakuasanya Allah Swt. Bukankah sudah amat banyak kisah, dimana seorang akhwat menolak lamaran yang datang pertama kali hanya karena dalih masih belajar, kemudian jodoh tak kunjung datang padanya? Bukankah penolakan yang pertama, bisa menjadi pintu bagi penolakan kedua, ketiga dan seterusnya? Bukankah menolak bermakna menunda pelaksanaan ibadah menikah yang terdapat banyak kebaikan di dalamnya? Bukankah ikhwan yang lelet, berdalih bersiap diri tapi tak kunjung baik, kemudian banyak alasan, lalu dirinya tak kunjung menikah sebab pilah-pilih dan plin-plan? Bukankah orang tua yang banyak mau, terlalu hitang-hitung, banyak pertimbangan, menjadi salah satu andil utama bagi terhambatnya pernikahan sang buah hati? Maka, teringatlah kisah seorang rekan. Jodohnya tak kunjung datang, sebab amat banyak kriteria yang menjadi pertimbangan diri dan orang tuanya. Ada di antara mereka yang menolak seorang calon istri, hanya karena kulitnya kurang putih, tingginya kurang semampai, rambutnya kurang lurus, panjang dan berkilau. Sebagian lainnya menolak sang calon mantu setelah melihat foto yang disodorkan oleh buah hati. Serta merta, orang yang diharapkan jadi calon mertua itu justru berkata, “Jangan dengan yang ini, kurang cantik. Terlalu pendek juga.” Ada pula yang menolak dengan alasan adat. Tak sesuai dengan hitung-hitungan versi leluhurnya. Misalnya, anak ke sekian tak boleh menikah dengan anak ke sekian; bisa terkena “laknat” leluhur. Yang lain; wanita suku A tidak boleh menikah dengan lelaki dari suku C. Karena, dalihnya, sang wanita akan lebih dominan sehingga rumah tangga bisa berantakan. Dan masih banyak lagi dalih-dalih lainnya. Padahal, jauh-jauh hari, sejak empat belas abad yang lalu, Rasulullah Saw yang mulia itu sudah mewasiatkan dengan amat baik dan masyhur di antara kita. Nikahilah wanita karena paras, keturunan dan harta. Tapi, pilihlah yang paling baik agamanya. Karena hanya dengan baiknya agama itu, sebuah keluarga akan bahagia-barakah, sakinah-mawaddah dan penuh rahmah. Semoga Allah Swt melindungi kita dari sekian banyaknya syubhat penunda pernikahan. Sekali lagi, tak ada kata terlambat. Yang terpenting adalah segera mengeksekusinya ketika peluang itu datang. Karena peluang, tak mungkin datang dua kali. Bersegera juga menjadi sebuah semangat. Karena ajal, bisa datang seketika. Harapannya, kita tak meninggal dalam keadaan membujang. Karena amat banyak “kerugian” yang diperoleh jika mengulur-menunda sehingga tak bersegera. Di samping itu, ketika anda mati dalam keadaan membujang -sebagaimana berlaku pada beberapa suku di negeri ini- di tempat pemakaman anda akan diikat seekor ayam -yang berlainan jenis kelaminnya- yang diasumsikan sebagai pasangan hidup anda di alam kubur. Mau? Saya tidak, dech! Penulis: Ustadz Pirman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar