Selasa, 30 September 2014

"Homesick? Cukuplah Allah Sebagai Penghibur Hati"

Tak terasa sudah hampir 2 bulan lamanya saya berada di sini, di kota ini, Kota Malang. 2 bulan bukanlah waktu yang singkat untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Namun entah mengapa hati ini selalu ingin kembali, dan tidak bisa dipungkiri bahwa diri ini selalu merindukan mereka yang disana. Homesick? Ya,, mungkin itulah perasaan yang saya rasakan sekarang. Merindukan orang-orang yang mencintai saya dan sayapun mencintai mereka karena Allah. Rindu dengan aktivitas-aktivitas di kampung halamanku Gorontalo, rindu dengan halaqah, rindu dengan para ukhti dan terlebih lagi rindu pada orangtuaku. Lebaran Idul Adha kini mulai menyapa hati dan kerinduan inipun semakin memuncak tatkala untuk pertama kalinya saya tidak bisa melaksanakan Shalat Idul Adha bersama mereka, berbagi bersama, salam-salaman, cipika-cipiki, foto bersama, dan silaturrahim bersama. Sedih? Ya, pastinya sedih, siapa sih yang tidak sedih tatkala disaat momen-moment bahagia, kita tidak berada disamping mereka?. Namun saya selalu yakin bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini karena setiap kejadian demi kejadian yang terjadi pasti sudah tertulis dalam kitab-Nya, di Lauhul Mahfuz. Dan saya meyakini bahwa Because Allah, I’m here and I’m here for a reason. Maka dalam setiap kali saya berdo’a, 1 permohonan yang pasti saya panjatkan kepada-Nya adalah. “Ya Rabbi... Janganlah Engkau cabut nyawa hamba dan nyawa orangtua hamba sebelum hamba bisa membahagiakan dan memberikan yang terbaik untuk mereka. Berikan umur yang panjang lagi berkah kepada mereka dan ampunilah dosa hamba dan dosa-dosa mereka. Meskipun jika kelak suatu saat nanti ketika hamba telah benar-benar menjadi seseorang seperti yang mereka impikan, hamba takkan bisa membalas semua jasa, semua pengorbanan yang telah mereka korbankan untuk hamba. Namun setidaknya dalam hidup mereka, hamba bisa memberikan apa yang terbaik yang hamba punya.” Homesick? dan lagi-lagi homesick, maka tatkala rasa itu datang lagi, cukuplah Allah sebagai penghibur hati. Cukuplah Allah yang selalu menemani setiap perjalanan hidup. Maka tatkala kerinduan itu datang menghampiri, maka Allah-lah tempat saya mengadu, Allah-lah tempat curhatan terbaik, karena segala urusan datangnya dari Allah, dan akan kembali pada-Nya. Seperti kalimat yang sering disampaikan oleh ibu saya adalah ketika kita ingin sesuatu, mintalah kepada-Nya, berdo’a hanya kepada-Nya, selalu kerjakan perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Maka jika rindu mulai menyapa hati cukuplah Allah sebagai penghibur hati. Karena kerinduan ini akan menjadi kenikmatan yang tak terhingga ketika kita melaluinya dengan penuh keikhlasan, kesabaran, usaha dan kerja keras.

2 komentar:

  1. Rasa yang sama ukh....
    Doanya bikin terenyuh...
    Allahuma aamiin....

    BalasHapus
    Balasan
    1. In syaa Allah.. Aamiin.. Jazakillah Kak Muth.. Tak terasa ini sdh mau 2 tahun. Hehehe ^_~

      Hapus