Rabu, 09 Oktober 2013

Agar Engkau Menjadi Wanita Tercantik di Dunia


Kecantikanmu bersinar melebihi terangnya mentari. Akhlakmu semerbak melebihi harumnya kasturi. Tawadhu’mu indah melebihi cahaya purnama. Dan kasih sayangmu membawa ketenangan melebihi curahan hujan.

Peliharalah kecantikanmu dengan keimanan, keridhaan, qana’ah, iffah, dan busana muslimah.

Ketahuilah, perhiasanmu bukanlah emas, berlian dan permata. Tetapi, beberapa rakaat menjelang sahur, rasa dahaga di siang hari saat puasa, sedekah tersembunyi yang tiada seorangpun mengetahui kecuali Ialhi Rabbi. Air mata hangat yang membasuh dosa, sujud panjang di atas sajadah, serta rasa malu yang membuat niat jahat dan maksiat tercegah.

Pakailah pakaian taqwa, saudariku. Tentu engkau menjadi wanita tercantik di dunia. Walau pakaianmu tertambal, itu tak jadi soal.

Pakailah pakaian luar yang sopan, niscaya engkau menjadi wanita terindah di alam. Walau engkau tak memiliki baju yang mahal, itu tak jadi soal.

Jauhilah kehidupan wanita-wanita durjana, kafir dan penggoda. Jangan sampai engkau membuka aurat atau berbuat sesuatu yang menjadikanmu tak lagi terhormat. Sebab siapa yang menjajakan kehormatannya, maka api neraka telah menunggunya. “Tidak ada yang masuk ke dalamnya, kecuali orang yang paling celaka” (QS. Al Lail : 15)

Saudariku, di setiap relung kehidupan ada kegelapan. Tiada pilihan bagimu, kecuali menyalakan lentera dalam jiwa. Maka cahaya dari Ilahi membuatmu menjadi wanita tercantik di dunia.

[Disarikan dari As’adu imroatin fil ‘alam -Kiat Menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia dan Akhirat- karya Aidh Al Qarni]
http://www.bersamadakwah.com/2013/04/agar-engkau-menjadi-wanita-tercantik-di.html

Kisah Nyata Keajaiban Sedekah dan Jodoh

Keajaiban sedekah dan jodoh telah banyak dirasakan oleh muslim dan muslimah. Salah satunya adalah wanita lajang berusia 37 tahun ini, yang datang kepada salah seorang ustadz untuk bertanya tentang jodoh. Ustadz Yusuf Mansur menuliskan kisah nyata tersebut dalam buku Kun Fayakun 2:

“Ustadz, cari jodoh susah ya?” tanya wanita itu setelah bertemu sang ustadz.
“Makanya, jodoh jangan dicari, tapi dibeli” jawab ustadz, membuat wanita ini tertawa sekaligus keheranan.
“Beli di mana, Ustadz? Memang ada yang jualan jodoh?”
“Ada!”
“Siapa?”
“Allah, Rabbul ‘alamin,” jawab ustadz mantap, “Kata Rasul ‘Dhau’ mardhakum bish shadaqah’ belilah penyakit dengan sedekah, termasuk penyakit kesepian, yaitu jomblo”
“Insya Allah, Ustadz. Saya akan sedekah”
“Iya, pulang, dah. Insya Allah dapat jodoh. Insya Allah”

Wanita ini pun pulang. Lalu, ia mampir ke masjid di kompleknya. Ia segera mendatangi takmir masjid tersebut.
“Pak, saya ingin sedekah di sini. Kira-kira masjid butuh apa yang bisa saya sedekahkan di sini?”
“Kebeneran, Neng, kami lagi melelang lantai. Satu meternya 150 ribu rupiah” jawab takmir.?

Wanita ini membuka dompetnya. Awalnya, ia hanya mengambil 150 ribu rupiah. Begitu ingat pesan bahwa kalau sedekah kita harus poll, akhirnya ia bersedekah 4 kali lipatnya: 600 ribu rupiah, dapat 4 meter.

“Pak takmir, doain ya, supaya hajat saya terkabul” katanya setelah menyerahkan sedekah.
“Memang, hajatnya apa, Neng?” tanya takmir.
“Ada, rahasia” kata si Neng, merahasiakan keinginannya mendapatkan jodoh. Namun, meskipun takmir tidak tahu apa hajatnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Tahu. Allah mengetahui bahwa wanita ini telah bersedekah dan sangat membutuhkan jodoh.

Tak lama kemudian, datang 4 orang melamar wanita ini, dalam waktu yang berdekatan. Subhanallah, setelah lama menanti jodoh, kini wanita ini malah dikasih Allah pilihan, memilih mana diantara 4 orang yang datang. Angka 4 persis seperti sedekahnya yang bernilai 4 meter lantai Masjid. Subhanallah... sungguh kisah nyata ini menjadi bukti keajaiban sedekah dan jodoh. [Disarikan dari buku Kun fayakun 2 karya Ust. Yusuf Mansur]
http://www.bersamadakwah.com/2013/04/kisah-nyata-keajaiban-sedekah-dan-jodoh.html

Belajar Menghapus Gelisah dari Seorang Shahabiyah

“Sungguh surga yang memang mahal itu bisa membalikkan 100% kegalauan, tinggal pilihan kita saja; mau atau tidak.” Akhir ulasan singkat tentang seorang shahabiyah di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dipaparkan murobbiyah tercinta sore itu cukup membuat saya terhenyak. Sekelas Mario Teguh, motivasi yang bersumber dari kisah sahabat pun bisa menjadi pemantik jitu yang tak usah membayar berjuta-juta asal kita tahu darimana sumbernya.

Sebuah kunci solusi galau, gundah, merana yang bukan hanya isapan jempol atau gombal dari kisah shahabiyah Ummu Haritsah bin Suraqah. Kisah yang mungkin banyak orang sudah sering membaca di kitab-kitab sirah dan sejenisnya tapi kali ini melalui murabbiyah tercinta, ada hikmah lain yang mungkin terlewat untuk direnungi.

Kisah seorang wanita tua renta yang sangat ingin anaknya mati syahid. Anak yang sangat ia cintai itu bukan ia manja, namun ia harapkan gugur sebagai syahid. Dengan cara inilah ia mencintai sang anak. Subhanallah. Eits...tapi bukan itu yang hendak saya unggulkan.

Dan dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rabi‘ binti Barra’ –yaitu ibu dari Haritsah bin Suraqah—datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau beritahu aku tentang keadaan Haritsah (yang terbunuh dalam perang Badar)? Jika ia di surga maka aku bersabar, tetapi jika tidak maka aku akan menangis menyedihkan kepergiannya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hai Ummu Haritsah, sungguh ada beberapa surga di dalam surga, dan sesungguhnya puteramu mendapatkan surga Firdaus yang tertinggi.” (HR. Bukhori)

Bagi seorang ibu, kesedihan akan bencana anaknya atau bahkan kematian akan anaknya sama saja dengan bencana bagi seluruh hidupnya. Paling tidak begitulah gambaran hati seorang ibu akan kasih sayangnya pada anaknya yang bahkan rela menukar nyawanya demi keselamatan dan kebahagiaan anaknya. Begitu pun dengan Ummu Haritsah bin Suraqah. Namun, semua kegundahan akan kematian anaknya dalam perang bisa ia balik 100% menjadi sebuah kebahagiaan penuh harap akan surga tertinggi yang Allah janjikan bagi seorang yang syahid.

Dalam sebuah riwayat :
“Barangsiapa yang memberangkatkan seorang prajurit di jalan Allah maka ia pun dianggap ikut bertempur di jalan Allah. Barangsiapa yang mengurus urusan orang yang berperang di jalan Allah dengan baik, maka ia pun dianggap ikut bertempur.” (HR. Bukhari Muslim)

Secercah hikmah tersemburat dari kisah tersebut yang tak kalah ampuh dibandingkan kata-kata motivator yang bernilai jutaan. Tentang bagaimana kekuatan surga itu bisa membalikkan 100% galau, gundah, merana yang tercecer mengotori hati. Harap-harapnya pada janji-janji Allah yang tak mungkin teringkari membuat wanita tua itu tak bersedih lagi setelah mengetahui bahwa anaknya berada pada surga tertinggi.

Lalu, bagaimana dengan kita? Cukupkah surga membuat setiap perih yang kita rasa dalam perjalanan hidup ini kita ubah menjadi keikhlasan dan harapan tertinggi pada surga-Nya kelak? Sejauh itukah iman kita menguatkan harapan kita tentang surga? Atau separuh iman saja yang ragu akankah surga itu sungguh balasannya? Tanyakan pada hati. [Gresia Divi]
http://www.bersamadakwah.com/2013/04/belajar-menghapus-gelisah-dari-seorang.html

Untukmu yang Sedang Dalam Penantian

Kepada para wanita yang belum menikah, penantian adalah hal yang pasti dilalui, entah itu lama atau sebentar. Dalam masa penantian itu, ada banyak hal yang mencuat dalam benak dan perjalanannya. Kebosanan, putus asa, atau bahkan kesabaran dan tawakal yang mengiringi setiap detiknya. Jenuh, kadang itu yang terlontar, pun tak ingin pula jika moment penentu masa depan kita itu juga kita lalui dengan sembarangan orang walaupun terkadang banyak faktor yang membuat kita harus terburu-buru untuk segera menikah. Tuntutan umur, keluarga, atau bahkan “intimidasi” adat dan tradisi. Akhirnya, tidak sedikit muslimah yang terpaksa menikah dengan orang yang tidak diinginkan, entah karena akhlaknya atau alasan lainnya.

Tentang penantian, sepertinya ada sebuah lirik seorang penyair yang bisa kita toleh, bisa menjadi masukan... Ebiet G.A.D. Ada dua pilihan yang bisa kita lakukan dalam masa penantian: menoreh manfaat atau merugikan diri.

Menunggu ada kalanya terasa mengasyikkan, banyak waktu kita miliki untuk berfikir
Sendiri seringkali sangat kita perlukan, meneropong masa silam yang telah terlewat
Mungkin ada apa yang kita cari, masih tersembunyi di lipatan waktu yang tertinggal
Mungkin ada apa yang kita kejar, justru tak terjamah saat kita melintas


Jika kita manfaatkan masa-masa penantian itu dengan positif, banyak hal yang bisa kita lakukan, entah untuk muhasabah atau pun meng-upgrade diri agar lebih berkualitas. Begitu pun sebaliknya, seperti pada syair selanjutnya.

Menunggu lebih terasa beban yang membosankan, banyak waktu kita terbuang tergilas cuaca
Sendiri seringkali sangat menyakitkan, meneropong masa depan dari sisi yang gelap
Mungkin ada apa yang kita takuti, justru t'lah menghadang di lembaran hari-hari nanti
Mungkin ada apa yang kita benci, justru t'lah menerkam menembusi seluruh jiwa kita
Mungkin ada apa yang kita takuti, justru t'lah menghadang di lembaran hari-hari nanti
Mungkin ada apa yang kita benci, justru t'lah menerkam menembusi s'luruh jiwa kita


Jika kita manfaat waktu penantian itu dengan hal yang negatif, bisa jadi kita justru terkalahkan oleh waktu itu sendiri.

Memang seharusnya kita tak membuang semangat masa silam
Bermain dalam dada, setelah usai mengantar kita tertatih-tatih sampai di sini


Di akhir lirik tersebut ada pesan terakhir yang diselipkan tentang semangat masa silam yang mengantarkan kita menjadi seperti sekarang, untuk tak membuang semangat itu sehingga kita tetap bertahan menjadi lebih baik hingga hari ini.

Bait syair Ebit mungkin memberi inspirasi bagi kita. Namun ada inspirasi yang jauh lebih hebat untuk menjadi pegangan kita dalam penantian. Inspirasi itu tidak lain adalah surat cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hamba-hambaNya yang beriman :

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا
“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar).” (QS. Ath Thuur: 48-49)

Dalam ayat tersebut, Allah mengarahkan Rasulullah dan kaum mukminin untuk bersabar. “Yakni bersabarlah terhadap gangguan mereka (orang-orang jahiliyah, kafir quraisy)” terang Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Sayyid Quthb dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an merinci lebih luas: “bersabar dalam menghadapi kesulitan, pendustaan dan cacian. Juga bersabar di jalan dakwah yang berat lagi panjang seraya menyerahkan persoalan kepada keputusan Allah”

Kata-kata Sayyid Quthb pada kalimat terakhir itulah yang perlu digarisbawahi dalam mengambil inspirasi penantian dari ayat ini: bersabarlah seraya menyerahkan persoalan kepada Allah. Sabar dan tawakal.

Langkah penantian seperti itulah yang dicontohkan Fatimah. Sebenarnya, Fatimah mencintai Ali. Tetapi ia diam. Ia tak pernah mengatakannya, juga tak pernah menjadikan alasan itu untuk menolak lelaki shalih yang lebih dulu datang melamarnya. Sebab ia tak tahu ketentuan Allah kelak seperti apa.

Jika kemudian Abu Bakar melamar Fatimah dan ditolak, Umar melamar juga ditolak, yang menolak adalah Rasulullah, bukan Fatimah. Sampai kemudian ketika Ali melamar Fatimah, Rasulullah menyetujuinya: ahlan wa sahlan.

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ” kata Fatimah kepada Ali setelah keduanya menjadi suami istri.
“Kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan siapakah pemuda itu?” Ali balik bertanya. Ia terkejut dengan apa yang didengarnya dari istri tercinta.
“Ya, karena pemuda itu adalah dirimu” jawab Fatimah sambil tersenyum.

Bisakah kita seperti Fatimah? Merangkai 3 hal dalam masa penantian, seperti petunjuk Allah dalam ayat di atas: bersabar, bertasbih, dan shalat malam. [Gresia Divi]
 
http://www.bersamadakwah.com/2013/05/untukmu-yang-sedang-dalam-penantian.html
 

Ukhti, Kejarlah Cintamu


“Jangan hanya mengejar cita-cita, tapi kejarlah cinta kalian juga” pesan guru MTs saya, saat saya dan teman-teman silaturrahmi ke rumah beliau. Bu Guru yang hampir berkepala empat ini ternyata belum menikah. Padahal beliau sudah mapan secara ekonomi dan sudah siap secara lahir dan bathin, secara fisikpun beliau imut. Namun entahlah sampai sekarang beliau belum juga menemukan pendamping hidupnya.

Pesan beliau menyiratkan makna yang mendalam bagi kami yang masih berusia kepala dua. Ada satu pelajaran yang dapat kami petik, yakni bagaimanapun planning kami tentang masa depan dan cita-cita jangan sampai lupa untuk mengejar cinta, menggenapkan separuh agama.

Kadangkala karena terlalu sibuk menuntut ilmu, mengejar cita-cita, mengejar target masa depan seperti planning S1, S2 keluar negeri, jadi PNS atau kerja di lembaga ini dan seterusnya, kita lupa memprioritaskan untuk menikah. Ketika usia sudah menginjak kepala tiga baru sadar kalau usia sudah tak lagi muda, teman-teman sudah mengantarkan anak-anak mereka sekolah, kita lantas ‘iri’ melihatnya.

Mungkin bukan cuman bu guru saya yang mengalami hal seperti ini. Ada beberapa kasus lain yang serupa, bahkan saya juga menemukan seorang akhwat yang usianya sudah 40 tahunan yang saya kira ummahat ternyata belum menikah juga. Dan masih banyak lagi kasus serupa.

Kalau kita hidup di tengah kota seperti Jogja, hal ini menjadi hal yang tak terlalu bermasalah. Karena tak ada yang menuntut, tak ada yang mengkritik kecuali beberapa orang di lingkungan kita yang memang sudah betul-betul mengenal kita yang berani bertanya pada kita, menggoda kita dengan pertanyaan-pertanyaan seputar itu bahkan mereka akan membantu mencarikan.

Tapi, coba kalau kita hidup di desa. Ini akan menjadi permasalahan yang serius. Selain menjadi beban kedua orang tua, hal ini terkesan menjadi ‘aib’ keluarga karena salah satu anggota keluarganya ada yang belum menikah padahal usia sudah kepala tiga bahkan kepala empat.

Dalam sebuah obrolan ringan dengan ayah saya, beliau mengatakan pada saya “Mau kamu sudah lulus kuliah, mau kamu sudah kerja, tapi kalau kamu belum menikah beban ayah belum selesai. Karena menikahkan kamu adalah tugas ayah”. Glekkk!!! Iya juga sih kalau dipikir.

Kata-kata serupa juga sempat diucapkan oleh seorang ibu yang saya temui saat saya mencari oleh-oleh di depan kantor pusat Semen Gresik tempo hari. Beliau punya dua orang anak perempuan. Anak yang kedua seusia dengan saya sedangkan anak pertama alumni IAIN Surabaya. Anak beliau yang pertama usianya sudah 30 tahunan, namun belum juga menemukan jodohnya.

“Saya itu kepikiran sama anak saya. Padahal usianya sudah 30 tahunan tapi belum juga menemukan jodohnya. Makanya adek kalau sudah lulus dan ada calon segera saja. Jangan terlalu banyak pilih seperti anak saya” kata ibu itu. Saya cuman senyum-senyum saja, sambil bilang “inggih, Bu”.

Saudaraku, bicara soal menikah. Apakah kalau kita mau menikah harus sukses dulu? Punya rumah dulu? Kalau menurut saya tidak! Kenapa? Karena iya kalau Allah memberi kesuksesan pada kita dalam usia muda, sehingga kita mapan, mampu beli rumah dan lain-lain. Tapi kalau ternyata Allah memberi kesuksesan pada kita di usia 30 tahunan atau bahkan 40 tahunan? Apa kita harus menunggu usia segitu? Apa kita tega membiarkan orang tua kita terus memikirkan kita? Apa kita tidak ‘iri’ melihat teman-teman yang sudah berkeluarga?

Beberapa hari yang lalu saya mencoba iseng menggoda sahabat saya

“Kapan nyusul Chopid?” sambil menyenggol teman saya yang sedang asyik menikmati hidangan walimahan sahabat saya juga.
“Ga tahu Nung” jawabnya, tangannya masih memegang makanan
“Lho kenapa. Kan sampean sudah ada?”
“Aku pengen sukses dulu. Pengen punya usaha dulu, pengen punya rumah dulu”
Hah? Saya melongo. “Apa ga kelamaan mbak? Iya kalau kita sukses dalam waktu dekat ini? Kalau ternyata Allah memberi kesuksesan di usia 40 tahunan, apa kudu nunggu usia segitu?” saya mencoba berargumen. Teman saya itu diam.
“Yaah kalau kita mau nikah kan butuh moda Nung. Tuh lihat Chopid. Berapa banyak biaya pernikahan yang dikeluarkan. Banyak Nung” katanya.
“Iya juga mbak. Tapi yang penting adalah modal nekad. Terserah acara walimah kayak gimana. Yang penting kan akadnya. Ga mesti harus seperti ini” kami lalu saling diam.

Mungkin kalau teman saya lihat fenomena di atas, dia akan berpikir ulang untuk menunda pernikahan. Karena menikah harus nunggu sukses, ga harus punya banyak modal. Yang penting modal nekat (bonek, bondo nekat hehe). Karena inti dari walimah adalah ijab qobul. Untuk acara walimah, ya semampu kita.

Saudaraku, tentunya kita semua punya planning baik itu jangka pendek maupun jangka panjang. Tapi dari semua planning itu jangan lupa untuk mempriotaskan menikah. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari lantaran kita belum menikah kemudian kita melihat teman-teman kita yang sudah menikah dan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Kalau menurut ilmu kedokteran, usia produktif wanita untuk melahirkan itu antara 20-35 tahun, sedang selebihnya akan lebih riskan bagi rahimnya.

Dan dengan menikah maka kita akan membebaskan ayah atau orang tua kita dari kewajibannya terhadap kita. Karena tugas ayah terhadap anak perempuannya adalah menjaga dan menikahkannya, setelah itu tanggung jawab beralih kepada suami kita. Selain itu dengan menikah maka semua amal kita akan bernilai ibadah, walau hanya sekedar senyum terhadap suami.

Dan tentunya kita tidak mau kan membujang sampai tua? Rasulullah melarang hal ini, dalam haditsnya yang artinya : Dan Sa’ad bin Abu Waqqash ra berkata, “Rasulullah SAW pernah melarang ‘Utsman bin Madh’un membujang dan kalau sekiranya Rasulullah mengijinkannya tentu kami berkebiri”. (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Saudaraku, walau jodoh sudah ditetapkan oleh-Nya maka jangan menjadikan ini sebagai alibi untuk berpangku tangan menunggu ikhwan datang untuk melamar kita. Tapi jodoh itu ibarat rizki, maka mari kita jemput ia dengan cara yang baik, kita ikhtiarkan ia dengan cara-cara yang baik, seperti minta tolong kepada orang tua, murabbiyah, teman dekat, yang disertai dengan taqorrub ilallah, memperbanyak ibadah, sedekah (terutama pada kaum dhuafa’) minta didoakan sama mereka karena doa kaum dhuafa’ biasanya maqbul. Selebihnya kita serahkan semuanya kepada-Nya.

Waallahu a’lam bish-shawab. [Ukhtu Emil]
 
http://www.bersamadakwah.com/2013/05/ukhti-kejarlah-cintamu.html

Menjadi Akhwat Tangguh


apakah mereka yang slalu berbuat baik itu tak pernah "terluka"
ah kawan.. boleh jadi mereka lah yang paling banyak terluka di "jalan ini"
bahkan mungkin hati mereka sudah tak utuh lagi.. tercabik dan terkoyak di sana-sini..
lalu mengapa mereka terus menebar kebaikan..?
karena yang mereka cintai adalah Allah… bukan dirinya sendiri…

[Sarwo Widodo Arachnida]

“3 hari sesudah menikah… kami pun hidup terpisah…” ucapnya dengan suara datar.
“Subhanallah…artinya sejak itu anti di Jakarta dan suami di Jawa Timur...? ” tanya Murobbiyah saya untuk meyakinkan.
“Benar…” jawab akhwat tersebut dengan penuh keyakinan tanpa penyesalan.

Itu sepenggal kisah yang dibagi murabbiyah saya saat duduk bersama di Masjid Islamic Center, pagi itu. Kisah tentang salah seorang akhwat pembimbing anak-anak calon penghafal Al Qur’an di Markaz Utrujah yang dirintis oleh DR. Sarmini Lc. MA. Seorang Akhwat tangguh yang berani mengambil pilihan memenangkan Allah dan dakwah di atas kesenangan pribadinya. Beliau lebih memilih mendampingi anak-anak menghafal setiap ayat demi ayat Al Qur’anul Karim dengan konsekuensi harus terpisah jarak dengan sang suami. Beliau lebih memilih bersabar untuk tidak berjumpa dengan suami yang dicinta demi mengantarkan bocah-bocah calon penghafal Al Qur’an itu menjadi generasi Robbani yang akan menjayakan dan memuliakan Islam dengan Al Qur’an. Sebuah pilihan yang tak mudah memang, tapi beliau telah membuat keputusan.

Dari pribadi–pribadi berjiwa tangguhlah selayaknya kita mengambil teladan. Sebab dalam hidup akan ada begitu banyak tantangan yang mesti kita hadapi. Sebab dalam hidup tak sedikit “persimpangan jalan” yang bakal memaksa kita untuk membuat pilihan dan keputusan. Sebab dalam hidup terlampau sering manusia “dipaksa” menjadi lebih kuat agar tidak mengalah pasrah saat menghadapi masalah.

Dari pribadi–pribadi berjiwa tangguh kita belajar, belajar terus menebar kebaikan. Mereka tak hidup untuk dirinya sendiri tapi juga menghidupkan dan memberi manfaat pada sekitarnya. Mereka percaya dengan penuh keyakinan jika di setiap langkah hidup yang mereka tempuh itu demi Allah dan dakwahNya, maka tak pernah akan ada yang sia- sia. Allah Maha Melihat dan malaikatpun tak akan lalai mencatat.. Mereka sepenuhnya mengimani firmanNya :

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)” (QS. Ar-Rahman: 60)

Jika sebuah pilihan yang tak mudah telah diambil, benturan dan luka adalah sebuah keniscayaan. Bentuknya bisa jadi berupa perasaan tidak nyaman, godaan keikhlasan, cacian dan celaan, rasa tidak puas serta tuntutan berlebihan dari lingkungan hingga lintasan hati untuk menghentikan perjuangan. Mungkin tidak cukup sekali, dua kali, tiga kali, bahkan mungkin akan berkali-kali benturan dan luka yang akan terjadi. Tapi pribadi berjiwa tangguh tak terlalu risau dengan segala luka dan kepahitan itu. Mereka lebih memilih Allah dari pada sekedar rasa nyaman. Mereka memilih untuk menjadi kuat sebab mereka tahu Allah yang akan memampukan dan menguatkan mereka dengan pertolonganNya.

”…dan merupakan hak Kami, untuk Menolong orang-orang yang beriman…” (QS. Ar-Rum 47)

“Yang pasti modal awalnya azzam yang kuat… kemudian jiddiyah… bersungguh-sungguh…” kata murabbiyah saya sambil menepuk lembut lutut mutarabbi yang sedang bersila di sampingnya. “Akhwat tadi bisa… Bu Sarmini juga bisa… antipun pasti bisa…” sambungnya menguatkan. Tiba–tiba… serasa sebuah pilihan dihamparkan di hadapan saya. Pilihan menjadi tangguh atau pengeluh…? Menjadi gagah atau kalah…? Pilihan pertama lebih indah sepertinya… bagaimana menurut kalian..? [Kembang Pelangi]
 
http://www.bersamadakwah.com/2013/05/menjadi-akhwat-tangguh.html

Antara Wanita Shalihah dan Bidadari Surga


Jam menunjukkan pukul 13:30. Matahari menyembulkan sinar dari balik awan, cerah. Awan putih di sekelilingnya menghiasi langit biru, ia seolah tersenyum melihat aku dan ummi yang tengah duduk berdua. Angin sepoi yang berhembus, membuat kami semakin asyik dalam angan kami. Di depan kami, terlihat kupu-kupu yang sedang berterbangan diantara bunga-bunga pohon yang biasa disebut orang Gresik sebagai pohon Keres, sedangkan orang Jogja biasa menyebutnya Talok.

“Dek” kata ummi, anganku terhenti. Kututup buku yang kupegang.
“Iya ummi” kupalingkan wajahku pada ummi, ummi terdiam sejenak.
“Liat deh dek, kupu-kupu itu seperti bidadari-bidadari yang berterbangan di taman surga. Sayapnya yang indah, dengan aneka macam warna, mengelilingi bunga talok dan daun-daunnya yang hijau. Indah ya dek?” kata ummi, matanya memandang ke arah kupu-kupu yang berterbangan di atas daun Talok yang terletak di samping asrama kami.

“Iya mi, indah ya. Kupu-kupunya bagus. Berwarna–warni. Subhanallah...” kataku pada ummi.

Aku lalu membayangkan bagaimana bidadari-bidadari surga itu menghiasi taman surga. Mereka saling bercengkerama. Matanya yang jeli, kulitnya yang halus dan bening, suaranya yang merdu, aah indahnya...

Tapi...

Anganku terhenti sejenak… Diam. Kosong. Mataku kembali menerawang jauh ke angkasa. Bukankah bidadari dunia itu lebih indah dan mulia tatkala ia bisa menjadi wanita sholihah, mereka wanita shalihah yang menjaga kehormatan dirinya dan martabat suaminya, mereka wanita-wanita shalihah yang tetap tegar menegakkan panji-panji Islam di tengah hiruk pikuk kehidupan dunia, mereka yang rela dianggap asing demi tegaknya sunnah Nabi di muka bumi ini, dan mereka yang menjauhkan dirinya dari hal-hal yang berbau maksiat dan syubhat.

Dalam hadits diceritakan bahwa suatu saat Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: ”Ya Rasulullah beritakanlah kepada kami, mana yang lebih utama di surga, wanita di dunia ataukah bidadari surga?”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Wanita-wanita di dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang tampak dari apa yang tidak terlihat”

Ummu Salamah kemudian bertanya “Mengapa wanita-wanita shalihah lebih utama daripada bidadari?”

Beliau menjawab “Karena shalat mereka, puasa, dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya dari emas. Mereka lalu berkata “Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Maka berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya” (HR. At-Thabrani)

Subhanallah... Sungguh mulianya wanita shalihah hingga Rasulullah mengatakan bahwa wanita shalihah lebih utama daripada bidadari surga. Wanita shalihah yang mengerjakan sholat, puasa dan memperbanyak ibadah.

Wahai saudariku...

Sungguh kita semua adalah wanita yang cantik, maka mari kita percantik diri kita dengan akhlak yang mulia, dengan menjadikan diri kita wanita yang shalihah hingga kita bisa menyaingi bidadari surga....

Wallahu a’lam bish-shawab... [Ukhtu Emil]
http://www.bersamadakwah.com/2013/07/antara-wanita-shalihah-dan-bidadari.html