Rabu, 09 Oktober 2013

Mengaku Akhwat, Tapi Mengundang Syahwat

Koleksi parfum menggoda - ilustrasi
“Mengaku Akhwat, Mengundang Syahwat”, itulah sebuah judul yang ditulis pada artikel anak-anak dalam rangka tugas Bahasa Indonesianya. Dalam tugas tersebut mereka mewawancarai dua orang guru yang berbeda pendapat. Satu dari ibu guru sedang yang satu dari bapak guru.

Kurang lebihnya seperti ini,
“Bu Guru, bagaimana pendapat anda mengenai pakaian yang sesuai syariat Islam?”
“Cara berpakaian yang sesuai syariat Islam adalah memakai kerudung minimal menutup dada, meskipun tidak terlalu lebar” jawab Bu Guru
“Percuma dong, kalau jilbabnya besar tapi hatinya tidak sesuai kehendak hati, ya sama saja tindakan yang dilakukan sia-sia?” imbuhnya.

Kemudian merekapun memberi pertanyaan lagi,
“Bu Guru, bagaiamana menurut anda akhwat yang memakai parfum?”
“Saya nggak setuju kalau akhwat dilarang memekai parfum”
“Alasannya?”
“Minyak wangi itu bisa membangunkan syahwat. Tapi bukan berarti kita tidak boleh menggunakannya. Kita boleh menggunakannya asalkan tidak sampai tercium orang lain”

Lain lagi dengan jawaban dari bapak guru yang satu ini,
“Cara berkerudung akhwat yang benar menurut syariat islam yakni menutup dari ujung rambut sampai setengah lengan. itu minimal”

Kemudian beliau memperkuat jawabannya dengan dasar surat An-Nur ayat 31 yang di dalamnya kita diperintahkan untuk menjulurkan jilbab sampai menutup dada.

Kemudian anak-anak menanyakan kepada beliau mengenai jahitan punggul yang membentuk lekak-lekuk tubuh. Menurut beliau hukum jahitan punggul pada baju tidak boleh. Karena baju yang menggunakan jahitan punggul “sekengan” biasanya membentuk tubuh (yang gendut ya kelihatan gendutnya, sedangkan yang kurus yang keliahatan kurusnya).

Sedangkan mengenai hukum memakai minyak wangi beliau berpendapat bahwa memakai minyak wangi bagi laki-laki adalah halal. Sedangkan bagi perempuan sebenarnya boleh tapi harus tahu tempat. Minyak wangi dikatakan haram jika dipakai diluar rumah, karena bisa mengundang syahwat dan menimbulkan fitnah.

Akwati fillah... Itulah sedikit gambaran mengenai dua perbedaan pendapat mengenai pakaian oleh bapak ibu guru di sebuah sekolah. Yang satu mengatakan bahwa dengan menutup dada saja sudah cukup, sedang yang satu sebaiknya sampai pada lengan atau siku.

Yang berpedapat pakaian yang sesuai syariat hanya sebatas menutup buah dada alasanya “Buat apa berjilbab besar kalau hatinya tidak ikhlas?” Mungkin kalau saya boleh membantah dengan judul anak-anak di atas, buat apa berjilbab tapi kalau masih mengundang syahwat? Buat apa pakai busana muslimah, kalau masih menunjukkan lekak-lekuk tubuh sehingga mengundang syahwat kaum Adam?. Bukankah begitu?

Terkadang awal untuk melakukan kebaikan perlu adanya paksaan. Perlu adanya proses, perlu adanya pembiasaan. Bukankah dipaksa untuk melakukan kebaikan yang membawa manfaat itu lebih baik dari pada terus membiarkan diri dalam kemaksiatan? Perkara itu diterima Allah atau tidak, itu urusan Allah. Ingat, ikhlas itu bisa dilatih sis...

Lain lagi dengan pendapat bapak guru di atas. Menurut beliau sebaiknya seorang wanita mengenakan kerudung sampai pada lengan atau siku. Hal ini untuk menghindari terlihatnya lekak-lekuk tubuh. Karena sesuai yang telah dijelaskan (baik dalam al-quran maupun hadits) syarat pakaian muslim adalah tidak nerawang, tidak menunjukkan leka-lekuk tubuh, tidak mencolok dan tidak memakai wangi-wangian yang berlebihan sehingga dapat mengundang syahwat kaum Adam.

Akhwati fillah... Berpakaian, bukan masalah modis, bukan masalah ga sesuai zaman, tapi kembali pada fungsi dan tujuan kita memakai pakaian itu sendiri. Tak apa pakai jilbab dengan model yang dibilang “jadul” atau model mirip “bu haji” (sehingga pas kita lewat skita sering dipanggil “bu haji” hehe ) yang penting sesuai syariat, tidak melanggar aturan syariat dan yang jelas sesuai dengan fuungsi pakaian itu sendiri menutup aurat agar terhindar dari pandangan syahwat kaum Adam...

Percuma kita mengikuti trend mode zaman sekarang, dengan berbagai model jilbab tapi masih menunjukkan lekak-lekuk tubuh, masih terawang, masih belum bisa menutup aurat kita dengan sempurna, dan masih memancing mata-mata tak berdosa untuk menikmati keindahan tubuh kita.

Oleh karenanya akhwati fillah... Marilah kita kembalikan fungsi pakaian muslimah itu sendiri, yakni sebagai penutup aurat kita yang akan menjaga kehormatan kita sebagai seorang muslimah. Sehingga kita terhindar pandangan syahwat kaum lak-laki yang ujungnya menjerumuskan kita ke dalam lembah kemaksiatan yang berujung pada neraka (ingat guys, masyoritas penguhuni neraka adalah kaum wanita) karena bila terjadi tindakan asusila seperti kasus rok mini yang terjadi beberapa waktu lalu, bukan hanya dari pihak lelaki yang disalahkan, tapi juga wanitanya. Karena dia tidak memakai pakaian sesuai syariat, sehingga laki-laki tersebut tergoda.

Wallahu a’lam bish shawab. [Ukhti Emil]
 
http://www.bersamadakwah.com/2013/09/mengaku-akhwat-tapi-mengundang-syahwat.html

Cinta Bersemi di Pelaminan

Oleh Anis Matta*

Lupakan! Lupakan cinta jiwa yang tidak akan sampai di pelaminan. Tidak ada cinta jiwa tanpa sentuhan fisik. Semua cinta dari jenis yang tidak berujung dengan penyatuan fisik hanya akan mewariskan penderitaan bagi jiwa. Misalnya yang dialami Nasr bin Hajjaj di masa Umar bin Khattab.

Ia pemuda paling ganteng yang ada di Madinah. Shalih dan kalem. Secara diam-diam gadis-gadis Madinah mengidolakannya. Sampai suatu saat Umar mendengar seorang perempuan menyebut namanya dalam bait-bait puisi yang dilantunkan di malam hari. Umar pun mencari Nasr. Begitu melihatnya, Umar terpana dan mengatakan, ketampanannya telah menjadi fitnah bagi gadis-gadis Madinah. Akhirnya Umar pun memutuskan untuk mengirimnya ke Basra.

Disini ia bermukim pada sebuah keluarga yang hidup bahagia. Celakanya, Nasr justru cinta pada istri tuan rumah. Wanita itu juga membalas cintanya. Suatu saat mereka duduk bertiga bersama sang suami. Nasr menulis sesuatu dengan tangannya di atas tanah yang lalu dijawab oleh sang istri tuan rumah. Karena buta huruf, suami yang sudah curiga itu pun memanggil sahabatnya untuk membaca tulisan itu. Hasilnya: aku cinta padamu!

Nasr tentu saja malu kerena ketahuan. Akhirnya ia meninggalkan keluarga itu dan hidup sendiri. Tapi cintanya tak hilang. Dia menderita karenanya. Sampai ia jatuh sakit dan badannya kurus kering. Suami perempuan itu pun kasihan dan menyuruh istrinya untuk mengobati Nasr. Betapa gembiranya Nasr ketika perempuan itu datang. Tapi cinta tak mungkin tersambung ke pelaminan. Mereka tidak melakukan dosa, memang. Tapi mereka menderita. Dan Nasr meninggal setelah itu.

Itu derita panjang dari sebuah cinta yang tumbuh di lahan yang salah. Tragis memang. Tapi ia tak kuasa menahan cintanya. Dan ia membayarnya dengan penderitaan hingga akhir hayat. Pastilah cinta yang begitu akan menjadi penyakit. Sebab cinta yang ini justru menemukan kekuatannya dengan sentuhan fisik. Makin intens sentuhan fisiknya, makin kuat dua jiwa saling tersambung. Maka ketika sentuhan fisik jadi mustahil, cinta yang ini hanya akan berkembang jadi penyakit.

Itu sebabnya Islam memudahkan seluruh jalan menuju pelaminan. Semua ditata sesederhana mungkin. Mulai dari proses perkenalan, pelamaran, hingga mahar dan pesta pernikahan. Jangan ada tradisi yang menghalangi cinta dari jenis yang ini untuk sampai ke pelaminan. Tapi mungkin halangannya bukan tradisi. Juga mungkin tidak selalu sama dengan kasus Nasr. Kadang-kadang misalnya, karena cinta tertolak atau tidak cukup memiliki alasan yang kuat untuk dilanjutkan dalam sebuah hubungan jangka panjang yang kokoh.

Apapun situasinya, begitu peluang menuju pelaminan tertutup, semua cinta yang ini harus diakhiri. Hanya di sana cinta yang ini absah untuk tumbuh bersemi: di singgasana pelaminan.


*buku Serial Cinta
http://www.pkspiyungan.org/2012/04/cinta-bersemi-di-pelaminan.html

Cermin Kebenaran

Oleh Anis Matta

Di awal hanya ada Allah sendiri. Lalu Ia menciptakan arsy-Nya di atas air. Setelah itu Ia ciptakan pena. Kemudian dengan pena itulah ia menitahkan penulisan semua makhluk yang akan Ia ciptakan di alam raya ini: langit, bumi, malaikat, manusia, jin hingga surga dan neraka. Dengan pena itu juga Ia menitahkan penulisan semua kejadian dengan urutan-urutannya pada dimensi ruang dan waktu. Begitulah susunan kejadiannya.

Dari Allah awalnya dan kelak ke sana akhirnya. Namun jika Allah tidak mendapatkan manfaat dari ciptaan-ciptaan-Nya, maka tidak ada yang dapat menjelaskan motif di balik sejarah kehidupan itu kecuali hanya satu kata: c i n t a!

“Maka”, kata Ibnu Qayyim dalam karyanya Taman Para Pencinta, “semua gerak di alam raya ini adalah gerak yang lahir dari kehendak dan cinta.” Dengan dan untuk itulah alam ini bergerak. Kehendak dan cintalah alasan pergerakan dan pemberhentiannya. Tak satupun makhluk di alam ini yang bergerak kecuali bahwa kehendak dan cintalah motif dan tujuannya.

Sesungguhnya hakikat cinta adalah gerak jiwa sang pencinta kepada yang dicintainya. Maka cinta adalah gerak tanpa henti. Dan inilah makna kebenaran ketika Allah mengatakan,

“Dan tiadalah Kami menciptakan langit dan bumi serta semua yang ada di antaranya kecuali dengan kebenaran.” (QS Al Hijr: 85).

Jadi, cinta adalah makna kebenaran dalam penciptaan. Itu sebabnya, hati yang dipenuhi dengan cinta lebih mudah dan cepat menangkap kebenaran. Cinta tidak tumbuh dalam hati yang dipenuhi keangkuhan, marah dan dendam. Bukankah Nabi saw mengatakan makna sombong adalah menolak kebenaran. Begitulah keangkuhan menyesatkan Abu Jahal, Heraklius dan Saddam Husein.

Cinta melahirkan pengakuan dan kerendahan. Cinta adalah cahaya yang memberikan kekuatan penglihatan pada mata hati kita. Begitulah cinta akhirnya membimbing Abu Bakar, Al Najasyi dan Cat Steven kepada Islam. “Cinta dalam jiwa”, kata Iqbal, “serupa penglihatan pada mata”.

Pengetahuan bahkan bisa menyesatkan kalau ia tidak dibimbing oleh kelembutan tangan cinta. “Itu kebutaan.”, kata Einstein. Sebab ia tidak melahirkan pengakuan dan kerendahan hati. Itu juga yang menjelaskan mengapa ilmu pengetahuan modern justru menjauhkan Barat dari Tuhan. Di sana cinta tidak membimbing pengetahuan. Maka dengan penuh keyakinan Iqbal berkata dalam karyanya Javid Namah:

Pengetahuan bersemayam dalam pikiran,
Tempat cinta ialah hati yang sadar-jaga;
Selama pengetahuan yang tak sedikit juga mengandung cinta,
Adalah itu hanya permainan sulap si Samiri;
Pengetahuan tanpa Ruh Kudus hanya penyihiran



*Buku Serial Cinta - Anis Matta
http://www.pkspiyungan.org/2012/04/cermin-kebenaran.html

K E S A B A R A N | Anis Matta

Tidak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran. Sebab kesabaran adalah nafas yang menentukan lama tidaknya sebuah keberanian bertahan dalam diri seorang pahlawan.

Maka dahulu ulama kita mengatakan: "Keberanian itu, sesungguhnya hanyalah kesabaran sesaat."
Risiko adalah pajak keberanian. Dan hanya kesabaran yang dapat menyuplai seorang pemberani dengan kemampuan untuk membayar pajak itu terus-menerus. Dan itulah yang dimaksud Allah swt dalam firman-Nya: "Jika ada di antara kamu dua puluh orang penyabar, niscaya mereka akan mengalahkan dua ratus orang. Dan jika ada di antara kamu seratus orang (penyabar), niscaya mereka akan mengalahkan seribu orang kafir."(QS. 8: 65).
Ada banyak pemberani yang tidak mengakhiri hidup sebagai pemberani. Karena mereka gagal menahan beban resiko. Jadi keberanian adalah aspek ekspansif dari kepahlawanan. Tapi kesabaran adalah aspek defensifnya. Kesabaran adalah daya tahan psikologis yang menentukan sejauh apa kita mampu membawa beban idealisme kepahlawanan, dan sekuat apa kita mampu survive dalam menghadapi tekanan hidup. Mereka yang memiliki sifat ini pastilah berbakat menjadi pemimpin besar. Coba simak firman Allah swt ini: "Dan Kami jadikan di antara mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar dan mereka selalu yakin dengan ayat-ayat Kami." (QS. 32 : 24).
Demikianlah kemudian ayat-ayat kesabaran turun beruntun dalam Qur'an dan dijelaskan dengan detil beserta contoh aplikasinya oleh Rasulullah saw, sampai-sampai Allah menempatkan kesabaran dalam posisi yang paling terhormat ketia la mengatakan: "Mintalah pertolongan dengan kesabaran dan sholat. Sesungguhnya urusan ini amatlah berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu'." (QS. 2: 45 )
Rahasianya adalah karena kesabaran ibarat wanita yang melahirkan banyak sifat lainnya. Dari kesabaranlah lahir sifat santun. Dari kesabaran pula lahir kelembutan. Bukan hanya itu. Kemampuan menjaga rahasia juga lahir dari rahim kesabaran. Demikian pula berturut-turut lahir kesungguhan, kesinambungan dalam bekerja dan yang mungkin sangat penting adalah ketenangan.
Tapi kesabaran itu pahit. Semua kita tahu begitulah rasanya kesabaran itu. Dan begitulah suatu saat Rasulullah saw mengatakan kepada seorang wanita yang sedang menangisi kematian anaknya: "Sesungguhnya kesabaran itu hanya pada benturan pertama." (Bukhari dan Muslim). Jadi, yang pahit dari kesabaran itu hanya permulaannya. Kesabaran pada benturan pertama menciptakan kekebalan pada benturan selanjutnya. "Mereka memanahku bertubi-tubi, sampai-sampai panah itu hanya menembus panah," kata penyair Arab nomor wahid sepanjang sejarah, Al-Mutanabbi.
Mereka yang memiliki naluri kepahlawan dan keberanian, harus mengambil saham terbesar dari kesabaran. Mereka harus sabar dalam segala hal: dalam ketaatan, meninggalkan maksiat atau menghadapi cobaan. Dan dengan kesabaran tertinggi, "sampai akhirnya kesabaran itu sendiri yang gagal mengejar kesabarannya," kata Imam Ibnul Qayyim.[]

*Anis Matta: Mencari Pahlawan Indonesia
http://www.pkspiyungan.org/2013/02/k-e-s-b-r-n-anis-matta.html

Seni Ketidakmungkinan

Oleh Anis Matta

Sejarah kepahlawanan tidaklah ditulis dengan mulus. Para pahlawan Mukmin sejati tidak selalu menghadapi situasi dan peristiwa yang mereka inginkan. Kita mungkin akan lebih kuat apabila situasi dan peristiwa yang tidak kita inginkan itu sudah kita duga sebelumnya, sehingga ada waktu yang memadai untuk melakukan antisipasi.

Akan tetapi, apa yang akan dilakukan para pahlawan mukin sejati apabila mereka menghadapi situasi dan peristiwa yang tidak mereka inginkan dan tanpa mereka duga sebelumnya? Ini jelas berbeda dengan situasi sebelumnya. Di sana kita mempunyai waktu yang memadai untuk melakukan antisipasi,tetapi di sini kita tidak mempunyai waktu itu. Di sana secara psikologis kita akan lebih siap, tetapi di sini kita tidak terlalu siap. Namun, saat-saat seperti ini akan selalu terulang dalam kehidupan para pahlawan mukimin sejati. Saat-saat seperti ini merupakan saat yang paling rumit dalam hidup mereka. Dan inilah salah satu momentum kepahlawan dalam hidup mereka.

Yang pertama kali mereka lakukan adalah menerima kenyataan itu apa adanya. Mereka tidak menolaknya, tidak juga mencela atau mengumpatnya. Dalam situasi seperti itu mereka menjadi sangat realistis; situasi atau peristiwa itu sudah terjadi, ia sudah menjadi kenyataan yang tidak dapat ditolak. Maka, jalan terbaik adalah menerimanya apa adanya. Tentu saja, tidaklah cukup hanya dengan menerima situasi dan peristiwa itu apa adanya. Maka, yang selanjutnya mereka lakukan adalah menentukan kemungkinan paling buruk yang dapat mengalihkan arah perjalanan mereka menuju kepahlawan. Jalan menuju kepahlawan itu haruslah jelas, sejelas matahari dalam benak dan kesadarannya.

Dengan begitu, ia mengetahui semua kemungkinan yang dapat mengalihkan arah perjalanannya. Misalnya, hadirnya situasi atau peristiwa tertentu di luar kehendaknya dan di luar dirinya serta tanpa ia duga sebelumnya, namun ia menyentuh dan mempengaruhi kehidupannya secara keseluruhan.

Itulah poin paling penting yang harus ia tentukan ketika selanjutnya ia berinteraksi dengan peristiwa atau situasi tersebut. Apabila poin yang dapat mengalihkan arah perjalanannya telah is temukan, maka langkah selanjutnya adalah mengadaptasikan dirinya dengan situasi-situasi baru yang terjadi setelah perubahan keadaan tersebut. Pikiran, jiwa, dan ruhnya harus belajar hidup normal dalam situasi-situasi baru tersebut.

Akan tetapi, dalam proses itu pula ia mencoba menemukan celah yang dapat mengambalikan kekuatan dirinya secara penuh, menemukan saat-saat keseimbangan optimalnya dari seluruh instrumen kepribadiannya dan memuntahkan karya-karya terbaiknya dalam situasi-situasi tersebut. Ia melampaui dengan tenang seluruh hambatan-hambatan yang merintanginya dalam situasi-situasi baru itu.

Kalau politik didefinisikan sebagai seni kemungkinan, kepahlawanan adalah kebalikannya; seni ketidakmungkinan.[]


*Buku Mencari Pahlawan Indonesia

http://www.pkspiyungan.org/2012/05/seni-ketidakmungkinan.html

"Modal Mengembalikan Kejayaan"



Oleh: Hepi Andi Bastoni
Follow: @andibastoni

Ajaran yang orisinil, pemeluk yang berkualitas, sumber daya alam yang melimpah dan warisan kejayaan yang pernah gemilang. Itulah di antara modal umat Islam menyongsong kejayaan.

Harapan untuk tegaknya kejayaan umat Islam, bukan impian. Kekuatan kaum kuffar saat ini sesungguhnya semu. Persatuan yang mereka galang untuk memusuhi kaum Muslimin sebenarnya teramat rapuh. ''Kamu kira mereka itu bersatu, padahal hati mereka bercerai berai,'' (QS al-Hasyr: 14). Demikian pesan al-Qur’an.
Di sisi lain, umat Islam mempunyai modal lebih dari cukup untuk bangkit. Modal itu tak perlu dicari. Sudah ada. Umat Islam tinggal menggali dan memanfaatkannya dengan baik.
Di antara modal utama umat Islam untuk bangkit adalah potensi syariah Islam yang tetap orisinil. Syariah Islam adalah warisan yang tak lapuk. Ia tetap sesuai untuk setiap tempat dan masa. Tak ada di dunia ini satu agama pun yang mempunyai orisinalitas seperti Islam. Inilah di antara terjemahan dari janji Allah yang akan menjaga keabadian al-Qur’an. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya,” (QS al-Hijr: 9).
Keaslian al-Qur’an ini merupakan modal utama berhimpunnya umat Islam dalam satu jamaah. Begitu pun kedudukan hadits yang mempunyai kekhususan sendiri dalam hal periwayatannya. Tak ada kitab suci yang terjaga keasliannya seperti al-Qur’an. Tak ada juga materi sejarah yang memakai sistem periwayatan seperti hadits sehingga keaslianya bisa dipertanggungjawabkan.
Keaslian dua sumber ini hingga sekarang bahkan sampai kiamat kelak, tetap akan terjaga. Keduanya bisa menjadi modal utama menuju satu jamaah. Apa pun bangsa dan jenisnya, umat Islam tetap menggunakan al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber ajaran.
Modal selanjutnya adalah kuantitas penduduk yang berlimpah. Umat Islam kini hampir merambah seluruh negeri. Bahkan, di negara-negara Barat pertumbuhan umat Islam begitu cepat, di luar dugaan semua orang. Isu terorisme dan usaha pembunuhan karakter terhadap umat Islam yang dilakukan Amerika Serikat dan sekutunya, justru berdampak sebaliknya.
Di Belanda, sepanjang 30 tahun terakhir, jumlah umat Islam telah membengkak dari hanya beberapa ratus orang menjadi lebih dari 300 ribu orang. Awalnya, hanya terdapat sebuah masjid di Belanda. Kini terdapat hampir 200 mushalla dan masjid di negara ini, yang semuanya mendapat sambutan luas dari masyarakat. Di Inggris, arus imigrasi kaum Muslimin ke Eropa pasca Perang Dunia Kedua telah meningkatkan populasi umat Islam. Kini, jumlah mereka lebih dari dua juta orang.
Menurut laporan surat kabar Times, setelah peristiwa 11 September 2001, Islam banyak mendapatkan perhatian dari kalangan warga kulit putih Inggris yang berekonomi kuat. Penisbatan peristiwa teror  kepada umat Islam malah menyebabkan anak-anak muda dan para peneliti termotivasi untuk meneliti Islam. Suratkabar Times mengisahkan kehidupan Elizabeth, seorang anak perempuan dari sebuah keluarga Inggris ternama dan kaya. Elizabeth telah memeluk  Islam di Masjid Regent Park yang terletak di pusat kota London. Times menulis, Elizabeth bukanlah pengecualian dalam hal ini, karena tak hanya di Inggris, namun di seluruh Eropa dan Amerika, terlihat kecenderungan serupa terhadap Islam.
Populasi umat Islam di Jerman merupakan kelompok ketiga terbesar setelah kaum Protestan dan Katolik. Namun demikian, peningkatan jumlah umat Islam di Jerman sangat cepat, sehingga saat ini kira-kira 40 persen umat Islam yang tinggal di Jerman berusia di bawah 18 tahun. Menurut data statistik 1995, jumlah umat Islam yang tinggal di Jerman sekitar 2,7 juta. Besarnya populasi Muslim di Jerman membuat mereka berubah menjadi sebuah kekuatan yang tak bisa dipandang enteng.
Menurut Klaus Lagenvis, seorang pakar undang-undang Jerman, masjid Jerman merupakan tempat bagi kaum Muslimin dari berbagai kelompok untuk saling menyatukan diri dan meraih rasa percaya diri. Majalah Figaro terbitan Perancis dalam sebuah makalahnya menulis, “Jumlah kehadiran umat Islam di masjid dan mushalla sedemikian banyaknya di Jerman, sehingga Paus Paulus mengimpikan sambutan yang sama terhadap gereja.”
Perancis termasuk negara Eropa yang mempunyai jumlah umat Islam yang besar karena hubungan sejarahnya dengan sebagian dunia Islam. Islam merupakan agama terbesar kedua di Prancis setelah Katolik. Jumlah umat Islam di negara ini hampir 5 juta orang. Beberapa waktu terakhir ini, pemerintah Prancis memberlakukan undang-undang diskriminatif terhadap umat Islam dengan melarang Muslimah mengenakan jilbab. Namun demikian, keteguhan hati Muslimah Prancis untuk tetap memakai jilbab, justru membuat ajaran Islam semakin tampil cemerlang. Perhatian masyarakat Barat terhadap kasus pelarangan jilbab malah membuat mereka tertarik untuk mempelajari Islam.
Masyarakat Eropa kini tengah dibelit oleh berbagai masalah moral dan sosial. Bila mereka menginginkan kehidupan yang jauh dari kekerasan, penyimpangan, amoralitas, atau kekacauan, mereka harus menemukan spiritualitas. Mengenal Islam secara benar akan membuka jalan yang tepat untuk mengatasi masalah masyarakat Eropa hari ini.
Modal selanjutnya adalah potensi kekayaan alam yang berlimpah. Sebagian besar negara-negara Islam dikaruniai kekayaan alam berlimpah. Negara-negara Timur Tengah kaya raya “bermandikan” minyak. Negara-negara Islam di Asia pun demikian. Curah hujan yang cukup, memungkinkan mereka untuk hidup dengan beragam tanaman. Bentangan laut  dengan segala isinya menambah kekayaan itu. Semua itu adalah modal untuk menyongsong kebangkitan.
Seperangkat modal itu dilengkapi lagi dengan potensi warisan peradaban yang masih ada. Umat Islam di masa lalu pernah memegang dunia. Kini warisan peradabannya masih bisa disaksikan. Belum  ada satu ideologi pun yang pernah mengalami kejayaan seperti itu. Kejayaan itu adalah modal kita untuk kembali bangkit. Paling tidak akan meyakinkan kita, bahwa kejayaan Islam bukan sebuah mimpi. Tapi pernah ada dan akan kembali terwujud. []
 
http://www.pkspiyungan.org/2013/10/modal-mengembalikan-kejayaan.html

Setelah 90 Tahun, Turki Cabut Larangan Berjilbab Bagi Pegawai Negeri


Pemerintahan Recep Tayyip Erdogan di Turki mencabut larangan mengenakan jilbab bagi para pegawani negeri wanita di berbagai instansi pemerintahan. Larangan ini telah berlaku selama 90 tahun, sejak awal pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk.
Diberitakan Reuters, Selasa 8 Oktober 2013, larangan yang diterapkan puluhan tahun itu telah membuat para wanitivaa Muslim enggan menjadi pegawai pemerintah. Pencabutan larangan berlaku untuk semua instansi, kecuali pengadilan dan militer.
Diperbolehkannya kembali memakai jilbab disampaikan melalui surat perintah resmi dan berlaku secepatnya. Menurut pemerintah Turki, penghapusan larangan ini adalah salah satu bagian dari reformasi demi meningkatkan demokrasi.
"Sebuah peraturan yang menyakiti banyak kaum muda dan menyebabkan penderitaan bagi orangtua mereka, sebuah masa kegelapan, akan berakhir," kata Perdana Menteri Erdogan dalam pertemuan Partai AK.
Peraturan ini pertama kali diterapkan tahun 1925 oleh Ataturk pasca runtuhnya Kekhalifahan Ottoman dua tahun sebelumnya. Ataturk melarang seluruh simbol agama di instansi pemerintahan, termasuk pemakaian jilbab.
Kendati pencabutan larangan ini dicemooh kelompok sekuler yang menuduh Erdogan coba menerapkan hukum Islam, namun disambut baik banyak kalangan. Beberapa dari mereka mendukung Erdogan yang mencoba mengembalikan ekspresi kebebasan beragama bagi masyarakat mayoritas Muslim.
"Sekarang semakin jelas bahwa kami benar. Kami senang dan sangat bangga. Memang keputusan ini terlambat, tapi setidaknya terealisasi, Alhamdulillah," kata Safiye Ozdimer, guru SMA negeri di Ankara. Selama bertahun-tahun, dia terpaksa melepaskan jilbabnya saat mengajar, demi mematuhi peraturan.
Dalam paket reformasi Erdogan, juga dicantumkan perbaikan hak-hak komunitas Kurdi. Di antaranya adalah diperbolehkannya menggunakan bahasa Kurdi dan penggunaan nama Kurdi di berbagai desa.
Selain itu, Erdogan juga menghapuskan kewajiban pengucapan sumpah setia terhadap bangsa yang dibacakan setiap minggunya oleh anak-anak sekolah dasar. (adi/vivanews)

http://www.pkspiyungan.org/2013/10/setelah-90-tahun-turki-cabut-larangan.html