Rabu, 08 Oktober 2014

"Validitas dan Reliabilitas dalam Penelitian Kualitatif"


1. Pendahuluan Selama ini istilah validitas dan reabilitas lebih umum dipakai pada penelitian kuantitatif, padahal di dalam penelitian kualitatif validitas dan reabilitas juga menjadi salah satu instrumen penting yang harus ada dalam sebuah penelitian ilmiah. Validitas biasanya digunakan untuk mempertanyakan apakah penelitian sudah mengukur apa yang mesti diukur dengan cara yang tepat. Sementara reabilitas digunakan untuk mempertanyakan seberapa handal data atau temuan yang di dapat dari hasil pengukuran tersebut. Bagi banyak peneliti yang kurang memahami paradigma penelitian kualitatif cenderung meragukan keabsahan hasil penelitian kualitatif. Beberapa pertanyaan mendasar yang sering dilontarkan adalah dimulai dari apa itu penelitian kualitatif ?, apakah hasil penelitian kualitatif memenuhi standar penelitian ilmiah ?, Apakah validitas dan reabilitasnya dapat dipercaya, lalu bagaimana cara mengukur validitas dan reabilitas dalam penelitian kualitatif, berbagai pertanyaan timbul terkait dengan hal ini. Artikel ini mencoba memberi pemahaman yang lebih luas tentang pengertian dan penggunaan reliabilitas dan validitas dalam paradigma penelitian kualitatif. 2. Pembahasan Sebagai sebuah penelitian yang harus dipertanggungjawabkan secara ilmiah tentunya penelitian kualitatif juga harus dilakukan dengan metode ilmiah yang benar, di mulai dari tahapan desain penelitian, pelaksanaan penelitian dan termasuk di dalamnya pengumpulan dan pengolahan data sampai pada tahapan penyusunan laporan hasil penelitian. Untuk bisa dilakukan dengan metode ilmiah yang benar tentu harus dimulai dari pertanyaan apa itu penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah sebuah penelitian yang menggunakan pendekatan naturalistik untuk memahami fenomena yang ada dalam bentuk atau konteks yang spesifik, atau dalam bentuk setting dunia nyata dimana peneliti tidak berusaha untuk memanipulasi fenomena yang menjadi ketertarikannya (Patton, 2002). Penelitian kualitatif, jika didefinisikan secara lebih luas lagi dapat diartikan sebagai setiap jenis penelitian yang menghasilkan temuan tetapi tidak dilakukan melalui prosedur statistik atau cara lain yang dikuantifikasi (Strauss dan Corbin, 1990). Atau bisa juga dikatakan jenis penelitian yang temuannya di dapat dari “real world” dimana fenomena yang menjadi ketertarikan peneliti dibiarkan terhampar secara natural atau alami. Tidak seperti peneliti kuantitatif yang mencari hubungan sebab akibat, prediksi, dan generalisasi dari temuan, peneliti kualitatif justru mencari titik terang, pemahaman, dan jawaban untuk situasi yang sama (Hoepfl, 1997). Dalam penelitian kualitatif interview dan observasi menjadi dominan guna mendapatkan data yang kita inginkan sehingga dalam hal ini instrumen kita sebagai peneliti itu sendiri menjadi faktor utama dari proses penelitian. Dengan demikian, terdapat perbedaan jika para peneliti berbicara tentang validitas dan reliabilitas dalam penelitian kuantitatif maka akan sangat ditentukan oleh instrumen yang dibangun “constructed instrument” sementara pada penelitian kualitatif justru peneliti itu sendiri adalah sebuah instrumen. Jika dalam studi kuantitatif reliabilitas dan validitas diperlakukan secara terpisah sebaliknya dalam penelitian kualitatif reabilitas dan validitas tidak dilihat secara terpisah. Bahkan menurut beberapa peneliti dalam konteks yang lebih luas istilah validitas dan reabilitas tidak dikenal dalam penelitian kualitatif. Dalam penelitian kualitatif terminologi yang biasa digunakan ketika membicarakan tentang validitas dan reabilitas adalah credibility, transferability, dependability dan confirmability Validitas Validitas adalah derajat ketepatan antara data yang terdapat di lapangan dan data yang dilaporkan oleh peneliti. jika dalam sebuah objek penelitian terdapat warna biru maka peneliti akan melaporkan warna biru secara apa adanya tanpa perlu menambah dengan variasi warna lain. Jika dalam objek penelitian para pegawai bekerja dengan keras, peneliti melaporkan bahwa pegawai bekerja dengan keras. Sehingga jika peneliti membuat laporan yang tidak sesuai atau berbeda sedikit dengan apa yang terjadi pada objek dilapangan maka data tersebut dapat dinyatakan tidak valid. Terdapat dua macam validitas penelitian yang biasa dipakai dalam penelitian kuantitatif, yaitu validitas internal dan validitas eksternal. 1. Validitas internal mempertanyakan sampai seberapa jauh suatu alat ukur berhasil mencerminkan obyek yang akan diukur pada suatu setting tertentu. Kalau desain penelitian dirancang untuk meneliti etos kerja pegawai maka data yang diperoleh seharusnya adalah data yang akurat tentang etos kerja pegawai. Penelitian menjadi tidak valid jika yang ditemukan adalah motivasi kerja pegawai. 2. Validitas eksternal lebih terkait dengan keberhasilan suatu alat ukur untuk diaplikasikan pada setting yang berbeda, artinya alat ukur yang cukup valid mengukur obyek yang sama pada setting yang lain. Bila sampel penelitian representatif, instrumen penelitian valid, maka penelitian akan memiliki validitas eksternal yang tinggi. Dalam sebuah penelitian kualitatif, temuan atau data dapat dinyatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dan yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa kebenaran realitas data menurut penelitian kualitatif tidak bersifat tunggal, tetapi jamak dan bergantung kepada konstruksi manusia, dibentuk dalam diri seseorang sebagai hasil proses mental dalam setiap individu dengan berbagai latar belakangnya. Oleh karena itu, bila terdapat sepuluh peneliti dengan latar belakang yang berbeda meneliti objek yang sama akan didapatkan sepuluh temuan dan semuanya dinyatakan valid jika yang ditemukan tidak berbeda dengan yang sesungguhnya yang terdapat pada objek yang diteliti. Reabilitas Meskipun istilah 'Keandalan' adalah konsep yang sering digunakan untuk pengujian atau mengevaluasi penelitian kuantitatif, tetapi istilah ini juga kadang digunakan dalam jenis penelitian yang lain. Menurut Kirk and Miller (1986) Reability adalah “ukuran tingkatan untuk mengukur seberapa independen sebuah hasil ditemukan secara tidak sengaja” artinya semakin normal atau alami sebuah temuan itu maka semakin tinggi reabilitas sebuah data atau temuan penelitian tersebut. Sementara Susan Stainback menyatakan bahwa reabilitas seringkali juga didefinisikan sebagai konsistensi atau stabilitas dari data atau temuan. Semakin konsisten atau stabil data atau temuan tersebut maka semakin handal penelitian tersebut. Dalam penelitian kualitatif, menurut Lincoln and Guba (1985), untuk mengukur validitas dan reabilitas digunakan istilah credibility, transferability, dependability dan confirmability. • Credibility digunakan untuk mengukur apakah hasil penelitian dari berbagai perspektif subyek dapat dipercaya. Padanan yang tepat dalam penelitian kuantitatif adalah internal validity. • Transferability berkaitan dengan hasil penelitian apakah dapat ditransfer atau digunakan pada konteks lain atau konteks yang lebih spesifik. Dalam penelitian kuantitatif dikenal dengan generalability, istilah lain untuk external validity. • Dependability berkaitan dengan apakah hasil penelitian dapat diulangi lagi. sebenarnya ide dependability menurut Lincoln and Guba (1985) adalah menekankan kepada peneliti untuk melaporkan konteks setiap perubahan yang terdapat dalam penelitian. Peneliti bertanggung jawab untuk menggambarkan bagaimana perubahan yang ada dalam setting penelitian. Ini dipadankan dengan reliabilitas dalam penelitian kuantitatif. • Confirmability adalah bagaimana hasil penelitian itu dapat dibenarkan oleh yang lain. artinya apa yang ditemukan, dituliskan dan dilaporkan sesuai dan dapat dibenarkan. Ini dipandankan dengan objectivity dalam penelitian kuantitatif. Tabel 1 Quantitative vs Qualitative Validity and Reability Quantitative Qualitative Internal Validity Credibility External Validity Transferability Reliability Dependability Objectivity Confirmability untuk memenuhi kriteria keabsahan data dalam penelitian kualitatif tersebut di atas yaitu credibility, transferability, dependability dan confirmability digunakan cara tertentu. Creswell (2000) menggunakan istilah triangulation, member check, and rich, thick description • Triangulation adalah upaya mengunakan beragam sumber, dan teknik yang digunakan dalam pengumpulan data. “multiple sources, methods and time for collecting data”. Beragam sumber dalam mengumpulkan data misalnya, menanyakan kebiasaan belajar siswa, tidak hanya bertanya kepada siswa tetapi juga bisa bertanya seperti kepada guru, teman, dan orangtua. Metode pengumpul data yang beragam digunakan seperti tidak hanya cukup dengan wawancara tetapi juga bisa seperti obeservasi, pertanyaan tertulis, dokumentasi, dan kelompok fokus. Triangulasi menguatkan dependability dan credibility penelitian kualitatif. • Member check yaitu diskusi peneliti dengan melibatkan orang yang terkait dengan penelitian dalam hal data yang dikumpulkan, untuk mengecek apakah interpretasi dapat diterima. Member chek mendukung keabsahan data dalam credibility. • Rich, thick description merupakan catatan yang detail dan tebal yang mengambarkan setting detail tentang apa yang diteliti untuk memberi gambaran utuh tentang objek penelitian dan proses penelitian. Ini untuk mendukung bahwa penelitian kualitatif dapat ditranfer atau digunakan dalam koteks lain, ini untuk mendukung transferability. Seperti yang sudah dibahas diatas reabilitas menunjukkan pada keterandalan alat ukur atau instrumen penelitian. Standar reabilitas mencakup 3 aspek: 1. Kemantapan. Suatu alat ukur memiliki tingkat kemantapan yang tinggi bilamana digunakan mengukur berulang kali akan memberikan hasil yang sama, dengan syarat kondisi pada saat pengukuran relatif tidak berbeda. 2. Ketepatan atau akurasi. Suatu alat ukur memiliki tingkat ketepatan yang tinggi bilamana menunjukkan ukuran yang benar terhadap sesuatu (obyek) yang diukur. 3. Homogenitas. Suatu alat ukur memiliki tingkat homogenitas yang tinggi bilamana unsure-unsur pokoknya mempunyai kaitan erat satu sama lain dan memberikan kontribusi pemahaman yang utuh terhadap pokok persoalan yang diteliti (obyek yang diukur). Lebih jauh standar validitas dan reliabiltas dalam penelitian kualitatif memiliki spesifikasi sebagai berikut (Lincoln dan Guba,1985): 1. Standar Kredibilitas. Agar hasil penelitian kualitatif memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi sesuai dengan fakta dilapangan (informasi yang digali dari subyek atau partisipan yang diteliti), perlu dilakukan upaya upaya sebagai berikut: a) Memperpanjang keikutsertaan peneliti dalam proses pengumpulan data di lapangan. Hal ini mengingat karena dalam penelitian kualitatif, peneliti merupakan instrumen utama penelitian. Dengan semakin lamanya peneliti terlibat dalam pengumpulan data, akan semakin memungkinkan meningkatkan derajat kepercayaan terhadap data yang dikumpulkan. Persyaratan ini memberikan petunjuk bahwa dalam pengumpulan data tidak boleh diserahkan kepada enumerator. Yang mengetahui persis permasalahan yang diteliti adalah peneliti itu sendiri, bukan orang lain termasuk enumerator. b) Melakukan observasi secara terus menerus dan sungguh-sungguh, sehingga peneliti semakin mendalami fenomena sosial yang diteliti seperti apa adanya. Teknik observasi boleh dikatakan merupakan keharusan dalam melaksanakan penelitian kualitatif. Hal ini disebabkan karena banyaknya fenomena sosial yang tersamar yang sulit terungkap bilamana hanya digali melalui wawancara. c) Melakukan triangulasi, baik triangulasi metoda (mengunakan lintas metoda pengumpulan data), triangulasi sumber data ( memilih berbagai sumber data yang sesuai), dan triangulasi pengumpul data (beberapa peneliti yang mengumpulkan data terpisah). Dengan teknik triangulasi ini memungkinkan diperoleh variasi informasi seluas-luasnya atau selengkap-lengkapnya. d) Melibatkan rekan sejawat (yang tidak ikut melakukan penelitian) untuk berdiskusi, memberikan masukan, bahkan kritik mulai awal kegiatan proses penelitian sampai tersusunnya hasil penelitian. Hal ini memang diperlukan, mengingat keterbatasan kemampuan peneliti, yang dihadapkan pada kompleksitas fenomena sosial yang diteliti. e) Melakukan analisis atau kajian kasus negatif, yang dapat dimanfaatkan sebagai kasus pembanding atau bahkan sanggahan terhadap hasil penelitian. Dalam beberapa hal, kajian kasus negatif ini akan lebih mempertajam temuan penelitian. f) Melacak kesesuaian dan kelengkapan hasil analisis data. g) Mengecek bersama sama dengan anggota penelitian yang terlibat dalam proses pengumpulan data, baik tentang data yang dikumpulkan, kategorisasi analisis, penafsiran dan kesimpulan hasil penelitian. 2. Standar Transferabilitas. Standar ini merupakan modifikasi validitas ekternal dalam penelitian kuantitatif. Pada prinsipnya, standar transferabilitas ini merupakan pertanyaan empirik yang tidak dijawab oleh oleh peneliti kualitatif itu sendiri, tetapi dijawab dan dinilai oleh pembaca laporan penelitian. Hasil penelitian kualitatif memiliki standar transferabilitas yang tinggi bilamana para pembaca laporan penenlitian ini memperoleh gambaran dan pemahaman yang jelas tentang konteks dan fokus penelitian. 3. Standar Dependabilitas. Standar dependabilitas ini boleh dikatakan mirip dengan standar reliabilitas. Adanya pengecekan atau penilaian akan ketepatan peneliti dalam mengkonseptualisasikan apa yang diteliti merupakan cerminan dari kemantapan dan ketepatan menurut standar reliabilitas penelitian. 4. Standar Konfirmabilitas. Standar ini lebih berfokus pada audit kualitas dan kepastian hasil penelitian, apa benar berasal dari pengumpulan data di lapangan. Audit konfirmabilitas ini biasanya dilakukan bersamaan dengan audit dependabilitas. Selain ke empat standar pokok di atas, ada sejumlah standar pelengkap yang patut diperhatikan dalam penelitian kualitatif, antara lain : 1. Dilaksanakan dalam kondisi wajar atau se alamiah mungkin. 2. Memperlakukan orang-orang yang diteliti semanusiawi mungkin. 3. Menjunjung tinggi perspektif partisipan. 4. Pembahasan hasil penelitian selain bersifat deskriptif juga sintesis 5. Kelemahan dan keterbatasan penelitian tidak perlu disembunyikan, bahkan harus dikemukakan secara transparan. Menurut Creswel dan Miller (2000) untuk menerapkan konsep validitas dan reabilitas ini dalam praktek maka para peneliti perlu untuk fokus pada delapan strategi berikut : 1. Melakukan pengamatan yang lama dan melakukan observasi yang terus menerus di lapangan termasuk harus ada upaya membangun kepercayaan partisipan, mempelajari budaya dan mencek kesalahan informasi atau pemahaman yang mungkin muncul dari peneliti atau informan. Di lapangan peneliti harus memutuskan apa yang paling menarik untuk dipelajari, apa yang relevan dengan penelitian dan fokus apa yang kita inginkan dari penelitian yang kita lakukan 2. Pada saat melakukan triangulasi peneliti harus menggunakan berbagai sumber data, metode, investigator dan teori untuk mendapatkan bukti yang benar 3. Melakukan per review atau tanya jawab dengan pihak eksternal selama proses penelitian. Pihak eksternal ini harus seseorang yang jujur dan memahami proses penelitian, pihak eksternal ini juga diharapkan mempertanyakan “hard question” tentang metode, arti dan interpretasi dan juga memberi kesempatan kepada peneliti untuk mengungkapkan perasaannya. 4. Pada saat melakukan “negative case analysis” peneliti harus memperhalus hipotesis yang dikerjakan berdasarkan penyelidikan yang sudah dilakukan. Peneliti harus merevisi hipotesis awal, melengkapi proses nya dan mengeluarkan semua data yang outlier 5. Mengklarifikasi bias dari peneliti terhadap tujuan awal penelitian sehingga pembaca memahami posisi peneliti dan alas an kenapa terjadi bias tersebut 6. Peneliti harus melihat pandangan seluruh anggota peneliti terhadap kehandalan data, temuan dan interpretasi yang dibuat dari hasil penelitian ini 7. Deskripsi yang kaya, padat dan detail akan membantu pembaca untuk mentransfer informasi yang ada ke dalam setting penelitian yang lain 8. Eksternal audit oleh konsultan eksternal, auditor akan membantu akurasi dari proses dan hasil penelitian yang sudah dilakukan Sementara untuk meningkatkan keandalan data atau hasil penelitian pada penelitian kualitatif dapat dilakukan beberapa cara : 1. Field note atau catatan lapangan harus detail, ini bisa dilakukan jika di dukung juga dengan tape untuk recording yang bagus sehingga proses wawancara mampu ditangkap dasn di rekam dengan baik 2. Proses Coding harus dilakukan oleh staf yang jujur, penggunaan software untuk coding akan sangat membantu 3. Kesepakatan diantara para “intercoder” dalam menggunakan berbagai model “coder” untuk menganalisa transkrip data harus jelas sehingga tidak terjadi penafsiran yang berbeda-beda satu sama lain Penutup Dari pembahasan diatas dapat dipahami bahwa reabilitas dan validitas tetap menjadi concern dalam penelitian kualitatif akan tetapi digunakan dengan istilah yang berbeda. Validitas dan reabilitas dari sebuah penelitian kualitatif inilah yang menjadi dasar bahwanya penelitian kualitatif tetap dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah karena tetap dilakukan dengan kaidah-kaidah ilmiah yang benar Daftar Pustaka Creswell, J.W. & Miller, D.L. (2000) Determining Validity in Qualitative Inquiry. Theory into Practice, 39 (3), 124-131 Hoepfl, M.C (1997). Choosing qualitative research: A primer for technology education researchers, Journal of technology Education, 9 (1), 47-63 Kirk, J & Miller, M.L (1986) Reability and Validity in Qualitative Research, Beverly Hill: Sage Publications Lincoln, Y.S and Guba.E.G (1985) Naturalistic Inquiry. Beverly Hill, CA: Sage Publications Patton, M.Q (2002) Qualitative Evaluation and Research Methods (3rd ed). Thousand Oaks, CA, Sage Publications Strauss, A & Corbin. J. (1990) Basic of Qualitative Research: Grounded theory Procedures and Techniques, Newbury Park. CA: Sage Publication.,Inc

Selasa, 07 Oktober 2014

BAB I ETIKA BISNIS, PERUBAHAN LINGKUNGAN, DAN STAKEHOLDER


Etika Bisnis dan Mengubah Lingkungan Bisnis dan Pemerintah beroperasi dalam mengubah lingkungan sosial dan politik ekonomi hukum teknologi dengan pemangku kepentingan bersaing dan klaim kekuasaan. Ketika stakeholder dan perusahaan tidak bisa setuju atau menegosiasi klaim yang bersaing di antara mereka sendiri, masalah biasanya pergi ke pengadilan. Stakeholder adalah individu, perusahaan, kelompok dan bahkan Negara-negara yang menyebabkan dan menanggapi isu-isu eksternal, peluang dan ancaman. Skandal perusahaan, globalisasi, deregulasi, merger, teknologi dan terorisme global telah mempercepat laju perubahan dan ketidakpastian di mana para pemangku kepentingan harus membuat keputusan bisnis dan moral. Pasukan Lingkungan dan Stakeholder Organisasi yang tertanam dalam berinterekasi dengan beberapa perubahan lingkungan lokal, nasional dan internasional, sebagai ahli sebelumnya menggambarkan. Lingkungan ini semakin menggabungkan penggabungan ke dalam sistem global dinamis interaksi yang saling terkait antara bisnis dan ekonomi. Lingkungan ekonomi terus berkembang menjadi konteks yang lebih global dagang, merek, dan arus sumber daya. Lingkungan teknologi telah membagi dalam munculnya komunikasi elektronik, jejaring sosial online dan internet, yang semuanya berubah ekonomi, industri perusahaan dan pekerjaan. Pendekatan Manajamen Stakeholder Pendekatan manajemen pemangku kepentingan adalah dengan cara memahami efek etis lingkungan dan kelompok pada isu-isu spesifik yang mempengaruhi stakeholder realtime dan kesejahteraan mereka. Apakah Etika Bisnis ? Mengapa Itu Penting ? Etika “solusi” untuk bisnis dan masalah organisasi mungkin lebih dari satu alternatif dan kadang-kadang tidak ada solusi yang tepat mungkin tampak available. Belajar untuk berfikir, akal dan bertindak etis dapat memungkinkan kita untuk pertama menyadari dan mengenali masalah etika potensial. Kemudian kita mengevaluasi nilai-nilai, asumsi dan penilaian mengenai masalah sebelum kita bertindak. Praktek Bisnis Tidak Etis dan Karyawan Kelima (2007) Nasional Etika Bisnis Survey (NBES) yang diperoleh 1.929 tanggapan mewakili seluruh AS workface 10 menemukan bahwa “ lanskap resiko etika adalah berbahaya dalam bisnis seperti sebelum pelaksanaan Serbanas-Oxeley Act 0f 2002.” Temuan survey dirangkum dalam : 1) Berita Baik: Pertama, pelanggaran etika secara umum sangat tinggi dan cack pada tingkat pra-Enron. Banyak karyawan tidak melaporkan apa yang mereka amati-mereka takut tentang pembalasan dan spektis bahwa laporan mereka akan membuat perbedaan. Satu dari delapan karyawan mengalami beberapa bentuk pembalasan atas laporan kesalahan. Kedua, jumlah perusahaan yang berhasil dalam menggabungkan budaya etika yang kuat perusahaan-lebar ke dalam bisnis mereka telah menurun sejak tahun 2005. Hanay 9 % dari perusahaan memiliki budaya etika yang kuat 2) Berita Buruk: Pertama, jumlah etika formal dan program kepatuhan meningkat. Dalam perusahaan dengan program-program yang dilaksanakan, terjadi peningkatan pelaporan, redusing resiko etika. Kedua, survey telah mampu menunjukkan secara definitive bahwa perusahaan yang bergerak melampaui komitmen tunggal untuk mematuhi undang-undang dan peraturan dan mengadopsi budaya etis perusahaan-lebar secara dramatis mengurangi kesalahan. Etika dan Kepatuhan Program Hanya satu dari empat perusahaan memiliki etika yang diterapkan dengan baik dan program kepatuhan hanya 25 % karyawan : 1) Apakah bersedia untuk mencari nasihat tentang pertanyaan etika yang timbul; 2) Merasa mereka siap untuk menangani situasi yang dapat menyebabkan kesalahan; 3) Menunjukkan bahwa mereka dihargai untuk perilaku etis; 4) Laporakan bahwa perusahaan mereka tidak menghargai keberhasilan yang diperoleh melalui cara-cara dipertanyakan; 5) Katakanlah mereka merasa positif tentang perusahaan mereka. Mengapa Etika Cetakan Dalam Bisnis ? 1) Keuangan dan Ekonomi: “ Melakukan hal yang benar “ penting bagi perusahaan, pembayaran pajak, pengusaha, bertindak secara legal dan etis berarti menyelamatkan miliaran dolar setiap tahun dalam tuntutan hukum, pemukiman dan pencurian. 2) Hubungan, Reputasi, Moral dan Produktivitas: Biaya untuk usaha juga mencakup kerusakan dari hubungan, merusak reputasi, penurunan produktivitas karyawan, kreativitas dan loyalitas, arus informasi tidak efektif di seluruh organisasi dan absensi. 3) Integritas, Budaya, Komunikasi dan Common Good: Bagi para pemimpin bisnis dan manajer, mengelola etis juga berarti mengelola dengan integritas. 4) Integritas/Etika: Delapan pulu delapan persen karyawan di atas 10 pengusaha terbaik setuju atau sangat setuju bahwa rekan kerja ditampilkan integritas dan perilaku etis setiap saat, sedangkan hanya 60 % merasa seperti itu di bagian bawah 10 organisasi. Bekerja untuk Perusahaan Terbaik Karyawan peduli etika karena mereka tertarik untuk etis dan sosial perusahaan yang bertanggung jawab. Meskipun daftar terus berubah, itu adalah instruktif untuk mengamati beberapa karakteristik pengusaha yang baik bahwa karyawan berulang kali mengutip. Karakteristik yang paling sering disebutkan termasuk bagi hasil, bonus dan penghargaan moneter Tingkatan Level Etika Bisnis Karena masalah etika tidak hanya masalah pribadi atau personal, akan sangat membantu untuk melihat tingkat yang berbeda di mana masalah berasal, dan bagaimana mereka saling bergerak tingkat lainnya. Masalah etika dan moral dalam bisnis dapat diperiksa dari setidaknya lima tingkatan, yaitu individu, organisasi, asosiasi, masyarakat dan internasional. Mengajukan Pertanyaan Kunci Hal ini membantu untuk menyadari tingkat etika situasi dan kemungkinan interaksi antara tingkat ketika menghadapi pertanyaan yang memiliki implikasi moral. Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat ditanyakan ketika keputusan bermasalah atau tindakan dianggap (sebelum menjadi dilema etika): 1) Apakah nilai-nilai inti dan keyakinan saya? 2) Apa nilai-nilai inti dan keyakinan organisasi saya? 3) Nilai siapa, keyakinan dan kepentingan mungkin beresiko dalam keputusan ini? Kenapa? 4) Siapa yang akan dirugikan atau dibantu oleh keputusan ini? 5) Bagaimana saya sendiri dan nilai-nilai inti untuk organisasi dan keyakinan terpengaruh atau diubah oleh keputusan ini? 6) Bagaimana saya dan organisasi saya akan terpengaruh oleh keputusan? Mengapa Menggunakan Penalaran Etis Dalam Bisnis? Pertimbangan etis yang diperlukan dalam bisnis setidaknya ada tiga alasan. Pertama, banyak kali hokum tidak mencakup semua aspek atau daerah abu-abu masalah. Kedua, mekanisme pasar bebas dan diatur pasar tidak efektif menginformasikan pemilik konsekuensi etis yang jauh jangkauannya. Ketiga, menyatakan penalaran diperlukan karena masalah moral yang kompleks membutuhkan pemahaman intuitif atau terpelajar dan kepedulian terhadap kejujuran, keadilan, kelompok dan masyarakat. Bisakah Etika Bisnis Diajarkan Secara Terlatih? Karena hukum dan penegakan hukum tidak selalu cukup untuk membantu panduan atau memecahkan masalah manusia yang kompleks yang berhubungan dengan situasi bisnis. Untuk itu ada kursus etika dan pelatihan dapat melakukan hal berikut: 1) Memberikan orang dengan dasar pemikiran, ide dan kosa kata untuk membantu mereka berpartisipasi secara efektif dalam proses etika pengambilan keputusan. 2) Bantuan orang “ masuk akal “ dari lingkungan mereka dengan abstrak dan memilih prioritas etis. 3) Memberikan senjata intelektual untuk melakukan pertempuran dengan pendukung fundamentalis ekonomi dan mereka yang melanggar standar etika. 4) Memungkinkan karyawan untuk bertindadak sebagai system alrm untuk praktik perusahaan yang tidak memenuhi stnadar etika masyarkat. 5) Meningkatkan kesadaran dan kepekaan terhadap isu-isu moral, komitman untuk mencari solusi moral. 6) Meningkatkan refleksi moral dan memperkuat keberanian moral. 7) Meningkatkan kemampuan orang untuk menjadi bermoral, otonom dan hati nurani kelompok. 8) Memperbaiki iklim moral perusahaan dengan memberikan konsep-konsep etika dan alat untuk membuat kode etik dan audit sosial. Ulama lain berpendapat bahwa pelatihan etika dapat menabah nilai lingkungan moral perusahaan dan hubungan di tempat kerja dengan cara berikut: 1) Menemukan pertandingan antara karyawan dan majikan dan nilai-nilai. 2) Mengelola titik push-back, di mana nilai-nilai karyawan diuji oleh rekan-rekan, karyawan dan pengawas. 3) Penanganan directive dari bos. 4) Mengatasi dengan sistem kinerja yang mendorong sudut etika pemotongan. Tahapan pembangunan Moral Tingkat perkembangan moral (yang meliputi enam tahap) menawarkan panduan untuk mengamati tingkat kematangan moral seseorang, terutama karena ia terlibat dalam transaksi organisasi yang berbeda. Apakah dan sejauh mana pendidikan etika dan pelatihan memberikan kontribusi terhadap pembangunan moral. BAB 2 STAKEHOLDER DAN ISU PENDEKATAN MANAJENEN Mengapa Menggunakan Pendekatan Manajemen Stakeholder Untuk Bisnis Etika? Pendekatan pengelolaan stakeholder merupakan respon terhadap pertumbuhan dan kompleksitas perusahaan kontemporer dan kebutuhan untuk memahami bagaimana mereka beroperasi dengan para pemangku kepentingan dan pemegang saham mereka. Teori stakeholder berpendapat bahwa perusahaan harus memperlakukan semua konstituen mereka secara adil dan bahwa hal itu dapat memungkinkan perusahaan untuk tampil lebih baik di pasar. "Jika organisasi ingin menjadi efektif, mereka akan memperhatikan semua dan hanya mereka yang dapat mempengaruhi hubungan atau menjadi dipengaruhi oleh pencapaian tujuan organisasi." Cara yang lebih akrab memahami korporasi adalah "pendekatan pemegang saham," yang berfokus pada hubungan ekonomi dan keuangan. Sebaliknya, pendekatan manajemen pemangku kepentingan adalah metode deskriptif yang mempelajari aktor.11 Pendekatan manajemen stakeholder memperhitungkan kekuatan non-pasar yang mempengaruhi organisasi dan individu, seperti moral, politik, hukum, dan teknologi kepentingan, serta faktor ekonomi. Mendasari pendekatan manajemen stakeholder adalah imperatif etis yang mengamanatkan bahwa bisnis dalam hubungan fidusia kepada pemegang saham mereka: (1) tindakan demi kepentingan terbaik dari dan untuk kepentingan pelanggan, karyawan, pemasok, dan pemegang saham mereka, dan (2) sehubungan dan memenuhi hak-hak stakeholder. Satu studi menyimpulkan bahwa "analisis kami jelas mengungkapkan bahwa beberapa tujuan-termasuk baik pertimbangan ekonomi dan sosial-dapat dan, pada kenyataannya, secara simultan dan berhasil dikejar dalam organisasi besar dan organisasi yang kompleks secara kolektif memperhitungkan bagian utama dari semua kegiatan ekonomi dalam kami masyarakat."12 Pendekatan Manajemen Stakeholder: Kritik dan Tanggapan Kritik dominan dari teori stakeholder oleh beberapa orang terpelajar adalah bahwa perusahaan harus melayani hanya para pemegang saham karena mereka memiliki korporasi tersebut. Hal ini penting untuk mengamati kritik teori stakeholder dan tanggapan terhadap hal ini untuk memahami tujuan teori stakeholder. Berikut kritik dari teori stakeholder yang ditawarkan oleh para orang terpejar: (1) meniadakan dan melemahkan tugas fidusia manajer yang berutang kepada pemegang saham; (2) melemahkan pengaruh dan kekuatan kelompok stakeholder; (3) melemahkan perusahaan; dan (4) perubahan karakter jangka panjang dari sistem kapitalis. Berdasarkan etika, argumen ini didasarkan pada properti dan hak kontrak tersirat, dan pada tugas dan tanggung jawab dari manajer kepada pemegang saham yang bertanggungjawab secara hukum. Para kritikus menganggap bahwa kekuatan beberapa kelompok pemangku kepentingan dapat dilemahkan oleh teori stakeholder dengan memperlakukan semua stakeholder sama-seperti yang disarankan oleh teori stakeholder. Misalnya, serikat buruh dapat dihindari, dirugikan, atau bahkan dihilangkan. Korporasi juga dapat melemah dalam mengejar keuntungan jika mereka mencoba untuk melayani kepentingan stakeholder. Korporasi tidak bisa menjadi segalanya bagi semua stakeholder dan melindungi kepentingan fidusia pemegang saham. Akhirnya, kritik yang menyatakan bahwa teori stakeholder mengubah karakter jangka panjang kapitalisme berpendapat bahwa: (1) perusahaan tidak bertanggung jawab oleh hukum selain kepada pemegang saham mereka, karena disiplin pasar korporasi tetap; dan (2) teori stakeholder memungkinkan beberapa manajer untuk "bermain" di perusahaan dengan menyatakan bahwa mereka melindungi beberapa kepentingan stakeholder, bahkan jika kepentingan orang lain yang dirugikan. Beberapa pemikir lainnya juga mengkritik pendukung teori stakeholder sebagai naif dan utopis. Kritikus ini mengklaim bahwa tujuannya baik "orang yang selalui ingin membantu" diabaikan atau menutupi realitas hubungan kerja modal melalui gagasan sederhana dalam teori stakeholder seperti "partisipasi," "pemberdayaan," dan "mewujudkan potensi manusia."15 Definisi Pendekatan Manajemen Stakeholder Pendekatan manajemen stakeholder didasarkan pada teori instrumental yang berpendapat bahwa "bagian kecil dari prinsip-prinsip etika (keyakinan, kepercayaan, dan kegotongroyongan) dapat menghasilkan keuntungan kompetitif yang signifikan."19 Pada saat yang sama, pendekatan ini mencakup konsep analitis dan metode untuk mengidentifikasi, pemetaan, dan mengevaluasi strategi perusahaan dengan para pemangku kepentingan. Kita lihat metode ini sebagai "analisis stakeholder." Pendekatan manajemen stakeholder, termasuk kerangka kerja untuk menganalisis dan mengevaluasi hubungan korporasi (sekarang dan potensial) dengan kelompok-kelompok eksternal, bertujuan strategis untuk menjangkau "menang-menang" dari hasil kolaborasi. Di sini, "menang-menang" berarti membuat keputusan moral yang bermanfaat bagi kebaikan bersama semua konstituen dalam batasan peradilan, keadilan, dan kepentingan ekonomi. Sayangnya, hal ini tidak selalu terjadi. Biasanya ada pemenang dan pecundang dalam situasi yang kompleks dimana ada yang mempersepsikan jumlah nol (yaitu, situasi di mana ada sumber daya yang terbatas, dan apa yang diperoleh oleh satu orang tentu hilang oleh yang lain). Stakeholder Stakeholder adalah "setiap individu atau kelompok yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh tindakan, keputusan, kebijakan, praktik, atau tujuan organisasi." Kita mulai dengan mengidentifikasi kepentingan stakeholder utama. Hal ini adalah perusahaan atau kelompok yang merupakan fokus dari analisis kami. Stakes (Patokan) Sebuah stake (patokan) adalah kepentingan, berbagi, atau mengklaim bahwa kelompok atau individu ikut andil dalam hasil korporasi kebijakan, prosedur, atau tindakan terhadap orang lain. Stakes mungkin didasarkan pada jenis bunga. Taruhannya stakeholder tidak selalu jelas. Kelayakan ekonomi dari perusahaan yang bersaing bisa dipertaruhkan ketika salah satu perusahaan akan masuk dan bersaing ke pasar. Kesehatan fisik masyarakat bisa dipertaruhkan ketika perusahaan seperti Mattell yang menggunakan jasa pemanufakturan dari luar perusahaan tanpa kontrol kualitas. Cara Menjalankan Analisis Stakeholder Analisis stakeholder adalah cara pragmatis dalam mengidentifikasi dan memahami beberapa (atau seringkali) pernyataan dari banyak konstituen. Sebagai bagian dari pendekatan stakeholder umum, analisis stakeholder adalah metode untuk membantu memahami hubungan antara interaksi antara organisasi dengan kelompok. Setiap situasi berbeda dan karenanya memerlukan peta untuk membimbing strategi organisasi ketika berurusan dengan kelompok-kelompok tertentu, beberapa di antaranya mungkin tidak mendukung isu-isu seperti pekerjaan outsourcing. Pemakaian Perspektif Tujuan Pengamat Pihak Ketiga Anda akan diminta untuk berperan sebagai seorang chief executive officer (CEO) dari perusahaan untuk melaksanakan analisis stakeholder. Namun, disarankan agar Anda mengambil peran " tujuan pengamat pihak ketiga " ketika melakukan analisis stakeholder. Mengapa? Dalam perannya ini, Anda akan diharuskan untuk menangguhkan keyakinan dan penilaian Anda untuk memahami strategi, motif, dan tindakan dari para stakeholder yang berbeda. Anda mungkin tidak setuju dengan organisasi yang tidak sesuai atau CEO yang Anda pelajari. Oleh karena itu, intinya adalah untuk dapat melihat semua sisi dari sebuah isu dan kemudian objektif mengevaluasi klaim, tindakan, dan hasil dari semua pihak. Menjadi lebih obyektif membantu menentukan siapa yang bertanggungjawab atas tindakan, siapa yang menang dan yang kalah, dan apa konsekuensinya. Bagian dari proses pembelajaran dalam latihan ini adalah untuk melihat sendiri titik buta, nilai-nilai, keyakinan, dan hasrat terhadap isu-isu dan stakeholder tertentu. Melakukan analisis stakeholder yang mendalam dengan kelompok memungkinkan orang lain untuk melihat dan mengomentari alasan Anda. Untuk bagian berikutnya, bagaimanapun, mengambil peran CEO sehingga Anda bisa mendapatkan ide dari analisis rasa tanggungjawab terhadap seluruh organisasi. Peran CEO dalam Analisis Stakeholder Analisis stakeholder adalah serangkaian langkah-langkah yang ditujukan untuk tugas-tugas berikut: 1) Petakan atau gambarkan hubungan antar stakeholder 2) Petakan atau gambarkan kerjasama antar stakeholder 3) Nilai sifat masing-masing tujuan yang akan dicapai stakeholder 4) Nilai sifat masing-masing kekuatan yang dimiliki oleh stakeholder 5) Buatlah sebuah kerangka matrik tanggungjawab moral kepada stakeholder 6) Kembangkan strategi dan taktik tertentu 7) Pantau pergeseran kesatuan stakeholder Ringkasan Analisis Pemangku Kepentingan Analisis pemangku kepentingan memberikan, dasar sistematis rasional untuk understanding masalah dan "etika dalam aksi" yang terlibat dalam relasi kompleks tionships antara organisasi, para pemimpinnya, dan konstituen. Ini membantu pengambil keputusan struktur sesi perencanaan strategis dan memutuskan bagaimana untuk memenuhi kewajiban moral seluruh pemangku kepentingan. Sejauh mana strategi yang dihasilkan dan hasil bermoral dan efektif bagi perusahaan dan para pemangku kepentingan tergantung pada banyak faktor, termasuk nilai-nilai pemimpin perusahaan, kekuatan stakeholder, legitimasi-kegiatan yang tions, penggunaan sumber daya yang tersedia, dan urgensi dari perubahan yang lingkungan. Negosiasi Metode: Menyelesaikan Perselisihan Stakeholder Perselisihan adalah bagian dari hubungan stakeholder. Kebanyakan perselisihan ditangani dalam konteks hubungan saling percaya saling menguntungkan antara para pemangku kepentingan; lain pindah ke sistem hukum dan peraturan. Perselisihan terjadi antara berbeda tingkat pemangku kepentingan: misalnya, antara profesional dalam sebuah organisasi tion, konsumen dan perusahaan, bisnis ke bisnis (B2B), pemerintah dan bisnis, dan di antara koalisi dan bisnis. Stakeholder Metode Penyelesaian Sengketa Penyelesaian sengketa adalah keahlian juga dikenal sebagai "sengketa alternatif Resolusi "(ADR). Teknik penyelesaian sengketa mencakup berbagai meth- ods dimaksudkan untuk membantu berperkara potensial menyelesaikan konflik. metode dapat dilihat pada sebuah kontinum mulai dari tatap muka negosiasi untuk litigasi Pendekatan manajemen pemangku kepentingan melibatkan berbagai dis- teknik resolusi pute, meskipun idealnya lebih integratif dan relasional daripada metode distributif atau berbasis kekuasaan akan berusaha dulu. Pendekatan berbasis kekuatan didasarkan pada otoriter dan metode berbasis persaingan, dimana kelompok atau individu yang lebih kuat “menang” dan pihak lawan “kalah”. Pendekatan ini dapat menyebabkan perselisihan lain muncul. Pendekatan gabungan mempunyai karakteristik sebagai berikut: 1) Masalah dilihat mempunyai banyak solusi daripada jelas dengan segera. 2) Sumber daya dipandang sebagai sesuatu yang dapat dapat dikembangkan, tujuannya adalah untuk “memperluas kue” sebelum membaginya. 3) Pihak2 berusaha menciptakan solusi yang lebih potensial dan proses2 yang demikian dikatakan sebagai “pencipta nilai”. 4) Pihak2 mencoba untuk menampung sebanyak mungkin kepentingan dari tiap2 pihak. 5) Disebut juga pendekatan “win-win” atau “semua untung”. Pendekatan distributif mempunyai karakteristik sebagai berikut: 1) Masalah dilihat sebagai “zero sum” 2) Sumber daya diimajinasikan tetap: “membagi kue” 3) “Nilai diakui” 4) Tawar menawar atau “memisahkan perbedaan”32 Pendekatan relational (yang mempertimbangkan kekuatan, kepentingan, hak, dan etika) termasuk dan berdasarkan atas: 1) “Pembangunan hubungan” 2) “Naratif”, “perundingan”, dan “dialogical” (yaitu berdasarkan dialog) 3) Keadilan dan rekonsiliasi restroratif (yaitu pendekatan yang menghormati martabat setiap orang, membangun pengertian, dan menyediakan kesempatan bagi korban untuk mendapatkan pemulihan dan bagi pelanggar untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka) 4) Pendekatan “transformatif” lain untuk membangun kedamaian.33 Proses negosiasi berprinsip dari Roger Fry dan William Ury, Getting to Yes, terus digunakan untuk hampir semua jenis sengketa. Empat prinsip itu adalah: 1) Pisahkan orangnya dari masalahnya. 2) Fokus pada kepentingan, bukan pada posisi. 3) Menciptakan pilihan untuk keuntungan bersama. 4) Bersikeras pada kriteria obyektif, tidak pernah menyerah pada tekanan. Ajudikatif, legislatif, keadilan yang menguatkan, reparasi, dan pendekatan berbasis hak dibutuhkan ketika hak, properti, atau hal2 yang sah lainnya telah dilanggar dan dirugikan. Para pemimpin dan profesional yang mempraktekkan sebuah pendekatan manjemen pemangku kepentingan, menggabungkan dan mendapatkan kemahiran dalam berbagai konflik dan penyelesaian sengketa alternatif.35 Pendekatan Stakeholder dan Pertimbangan Etika Pertimbangan etika pada analisis stakeholder melibatkan pertanyaan “Apakah yg adil, jujur, dan baik bagi mereka yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh bisnis perusahaan? Siapakah stakeholder yg paling lemah kekuatan dan pengaruhnya? Siapakah yg dapat, akan, dan seharusnya membantu stakeholder yg paling lemah agar suaranya terdengar dan mendorong partisipasi mereka dalam proses pengambilan keputusan?” Akhirnya, analisis stakeholder membutuhkan stakeholder utama untuk menentukan dan memenuhi kewajiban etis mereka kepada konstituen yg terpengaruh. Tanggung Jawab Moral Dari Area Lintas Fungsional Profesional Salah satu tujuan dari analisis stakeholder adalah untuk mendorong dan mempersiapkan manajer organisasi untuk mengucapkan dengan jelas tanggung jawab moral mereka sendiri, sebaik tanggung jawab kepada perusahaan dan profesi mereka, menuju konstituen mereka yg berbeda. Analisis stakeholder fokus kpd perhatian dan keputusan moral perusahaan yg berproses pada peristiwa2 eksternal. Pendekatan stakeholder juga diterapkan secara internal, khususnya pada manajer individual di area2 fungsional tradisional. Para manajer ini dapat dilihat sebagai saluran melalui dimana stakeholder eksternal yg lain terpengaruh. Marketing dan Sales Profesional dan Manajer sebagai Stakeholder Sales profesional dan manajer terus terlibat – secara elektronik dan/atau tatap muka – dengan pelanggan, pemasok, dan vendor. Sales profesional juga dievaluasi berdasarkan kuota dan ekspektasi hitungan basis mingguan, bulanan, dan triwulanan. Stress dan tekanan utk memenuhi harapan selalu ada. Sales profesional harus secara kontinyu menyeimbangkan etika diri dan tekanan profesi mereka. Dilema sering muncul: “Siapa yg saya wakili? Bobot apa yg dimiliki kepercayaan dan etika saya saat diukur dibandingkan dengan penilaian kinerja departemen dan perusahaan pada saya?” Pertanyaan penting yang lain untuk sales profesional adalah “Dimana batas antara praktik yg tidak etis dan etis bagi saya?” R&D, Engineering Professionals, dan Manajer sebagai Stakeholder Manajer R&D dan insinyur bertanggungjawab atas keamanan dan keandalan desain produk. Produk yang salah dapat menyebabkan kemarahan publik, yang dapat mengakibatkan liputan media yang tidak diinginkan dan mungkin (mungkin dibenarkan) tuntutan hukum. Manajer R&D harus bekerja dan berkomunikasi secara efektif dan sungguh2 dengan profesional dalam bidang manufaktur, pemasaran, dan sistem informasi; manajer senior; kontraktor; dan perwakilan pemerintah, sampai beberapa stakeholder mereka. Akuntansi dan Keuangan Profesional dan Manajer sebagai Stakeholder Akuntansi dan keuangan profesional bertanggung jawab untuk kesejahteraan klien dengan menjaga kepentingan keuangan mereka. Perencana keuangan, broker, akuntan, pengelola reksa dana, bankir, ahli penilaian, dan agen asuransi memiliki tanggung jawab untuk memastikan handal dan akurat transaksi dan pelaporan uang dan aset orang lain. Banyak profesi ini adalah bagian dari industri diatur; Public Relations Manajer sebagai Stakeholder Public relations (PR) manajer harus terus-menerus berinteraksi dengan kelompok-kelompok di luar dan eksekutif perusahaan, terutama di zaman ketika media yang komunikasi, hubungan eksternal, dan bermain pengawasan publik peran penting tersebut. Manajer PR bertanggung jawab untuk transmisi, penerimaan, dan menafsirkan informasi tentang karyawan, produk, jasa, dan perusahaan. Sumber Manajer manusia sebagai Stakeholder Manajer sumber daya manusia (HRMS) berada di garis depan membantu lainnya manajer merekrut, mempekerjakan, api, mempromosikan, mengevaluasi, penghargaan, disiplin, transfer, dan karyawan nasihat. Mereka bernegosiasi permukiman serikat dan membantu pemerintah dengan menegakkan Equal Employment Opportunity Commission (EEOC) standar. Ringkasan Tanggung jawab Moral Manajerial Ahli dan manajer area fungsional dihadapkan dengan menyeimbangkan tujuan keuntungan operasional dan kewajiban moral perusahaan terhadap stakeholders. Tekanan tersebut dianggap "bagian dari pekerjaan." Sayangnya, jelas arah perusahaan untuk menyelesaikan dilema yang melibatkan konflik antara hak-hak individu dan kepentingan ekonomi perusahaan umumnya tidak tersedia. Menggunakan analisis stakeholder adalah "seperti berjalan di sepatu lain profesional. "Anda mendapatkan rasa tekanan nya. Menggunakan pemangku kepentingan yang Analisis adalah langkah untuk mengklarifikasi isu yang terlibat dalam menyelesaikan etis dilema. Permasalahan Manajemen, Stakeholder Pendekatan, Dan Etika: Integrasi Kerangka Metode Isu manajemen melengkapi pendekatan manajemen stakeholder. Mungkin akan membantu untuk memulai dengan mengidentifikasi dan menganalisis isu-isu utama sebelum melakukan analisis pemangku kepentingan. Banyak perusahaan besar terkemuka menggunakan masalah manajer dan metode untuk mengidentifikasi, melacak, dan menanggapi tren yang menawarkan peluang potensial, serta ancaman terhadap perusahaan. Sebelum membahas cara mengintegrasikan manajemen pemangku kepentingan (dan analisis) untuk isu-isu manajemen, manajemen isu didefinisikan. Apa Itu Publik "Issue"? Isu adalah masalah, pertentangan, atau argumen yang menyangkut kedua organisasi dan satu atau lebih dari para pemangku kepentingan dan / atau pemegang saham. Juga, "Pikirkan dari masalah seperti kesenjangan antara tindakan dan harapan stakeholder”. Kedua, memikirkan isu manajemen sebagai proses yang digunakan untuk menutup kesenjangan tersebut. Kesenjangan bisa ditutup dalam beberapa cara, dengan menggunakan beberapa strategi. Metode utama adalah menggunakan kebijakan akomodatif. Memberikan pendidikan publik, dialog masyarakat, dan mengubah harapan melalui komunikasi beberapa strategi akomodatif yang digunakan dalam manajemen isu. Memecahkan masalah rumit kadang-kadang membutuhkan tindakan radikal, seperti mengganti anggota dari dewan direksi dan tim manajemen senior. Masalah Umum Lainnya Ada jenis lain dari isu-isu publik dari lingkungan eksternal yang melibatkan perusahaan yang berbeda dan industri. Misalnya, masalah obesitas telah menjadi menonjol di Amerika Serikat. Setelah dianggap sebagai masalah gaya hidup pribadi, obesitas kini dipandang sebagai penyakit kesehatan masyarakat, dengan pengobatannya harus dibayar oleh asuransi kesehatan seseorang. Masalah ini melibatkan perusahaan asuransi, perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan individu menghadapi ini masalah, pengacara ketenagakerjaan, keluarga dari orang-orang yang terkena dampak, dan pembayar pajak, untuk beberapa nama. Isu publik lain yang mempengaruhi banyak pemangku kepentingan adalah driver yang minum. Ibu AS yang telah kehilangan anak anak mereka fenomena yang berkembang ini telah menemukan bahwa masalah ini tidak satu set peristiwa yang terisolasi, tapi luas. Stakeholder dan Isu Manajemen: "Menghubungkan Dots" Isu dan manajemen pemangku kepentingan digunakan secara bergantian oleh para sarjana dan praktisi perusahaan, sebagai dua kutipan berikut menggambarkan: Bagi banyak keadaan sulit sosial, pemangku kepentingan dan isu-isu mewakili dua sisi yang saling melengkapi dari coin sama. Stakeholder cenderung untuk mengatur sekitar isu-isu "panas", dan isu-isu biasanya terkait dengan kelompok pemangku kepentingan vokal tertentu. Sarjana isu-isu manajemen Oleh karena itu dapat menjelajahi bagaimana isu-isu manajemen memerlukan prioritas pemangku kepentingan, dan bagaimana manajemen pemangku kepentingan akan difasilitasi ketika manajer memiliki pengetahuan yang mendalam tentang isu agenda pemangku kepentingan. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa apakah atau tidak stakeholder memutuskan untuk terlibat dengan isu-isu tertentu memiliki pengaruh besar pada masalah evolusi, dan seperti halnya waktu dan tingkat mereka keterlibatan. Tingkatan keempat Model “siklus hidup” Thomas Marx menawarkan sebuah model yang berkaitan sebagai fase ketujuh dari kerangka yang disampaikan diatas. Marx mengamati bahwa permasalahan berkembang dari tingkatan yang keempat “siklus hidup” dari harapan sosial ke kontrol sosial seperti pada tahapa-tahap berikut (Figur 2.10). 1) Harapan social 2) Permasalahan politik 3) Undang-undang 4) Kontrol sosial Mengelola Krisis Metode “manajemen krisis” dikembangkan dari mempelajari bagaimana perusahaan dan para pemimpin merespon krisis. Menggunakan manajemen krisis dengan metode pemegang kepentingan adalah penting untuk memahami dan kemungkinan untuk mencegah kegagalan di masa depan karena krisis terus berlanjut dalam beberapa area: produk/krisis jasa (contohnya kecelakaan JetBlue tahun 2007 akibat cuaca), sistem keuangan (kasus Enron), dan proyek pemerintah/kontraktor privat. Sir Michael Bishop merespon krisis yang dia hadapi dalam cerita sebelumnya adalah sebuah cerita kesuksesan. Sayangnya, kebanyakan pemimpin perusahaan tidak meresponnya secara berani. Bagaimana Para Eksekutif Telah Merespon Krisis Bagaimanapun juga, sebuah model krisis manajemen klasik telah dikembangkan oleh Matthews, Goodpaster, dan Nash memberikan anjuran sebuah tipe yang berbeda dari mode respon CEO dalam lima fase dari respon sosial perusahaan kepada krisis berhubungan dengan produk krisis manajemen. Model ini berdasar pada studi penulis tentang bagaimana perusahaan harus merespon krisis yang serius. Fase tersebut adalah (1) reaksi, (2) pertahananan, (3) wawasan, (4) akomodasi, dan (5) agensi (Figur 2.12). Baca ulang kasus Mattel pada akhir bab ini dan terpakan metode manajemen krisiss ini selama anda melanjutkan membaca. Rekomendasi Manajemen Krisis Rekomendasi taktis berikut ini juga membantu pencegahan dan penanganan krisis teknik: 1) Memahami seluruh bisnis Anda dan dependensi 2) Pahami bisnis Anda memberikan dasar bagi semua kebijakan dan proses selanjutnya didasarkan dan, oleh karena itu, tidak boleh terburu-buru 3) Melaksanakan penilaian dampak bisnis 4) Setelah mengidentifikasi proses misi kritis, penting untuk menentukan apa dampaknya jika krisis terjadi. Proses ini harus menilai kualitatif (seperti tingkat keuangan dan layanan) dan kualitatif (seperti operasional, reputasi, hukum dan peraturan) dampak yang mungkin timbul dari krisis dan tingkat minimum sumber daya untuk pemulihan. 5) Lengkapi penilaian risiko 360 derajat 6) Ini digunakan untuk menentukan ancaman internal dan eksternal yang dapat menyebabkan gangguan dan kemungkinan kejadian serupa. Memanfaatkan pengakuan teknik risiko, skor dapat dicapai, seperti tinggi menengah rendah, satu untuk 10, pr tidak dapat diterima / risiko yang dapat diterima 7) Mengembangkan respon yang layak, relevan, dan menarik 8) Ada dua bagian untuk tahap ini: mengembangkan respon rinci untuk insiden dan perumusan rencana krisis bisnis yang mendukung respon tersebut 9) Rencana penggunaan, pemeliharaan, dan audit 10) Sebuah rencana krisis bisnis tidak dapat dianggap handal sampai telah diuji. Menggunakan rencana tersebut cukup penting, sebagai rencana belum teruji menjadi rencana dipercaya. Akhirnya, masalah, metode manajemen krisis dan teknik pencegahan hanya afektif dalam perusahaan jika: 1) Manajemen puncak adalah pendukung dan berpartisipasi 2) Keterlibatan adalah lintas departemen 3) Isu unit manajemen cocok dengan budaya perusahaan 4) Output, bukan proses, adalah fokus

BAB 2 LINGKUNGAN PELAPORAN KEUANGAN


Pendahuluan 1) Akuntansi Keuangan adalah proses yang melibatkan pengumpulan dan pengolahan informasi keuangan untuk membantu dalam pembuatan berbagai keputusan oleh banyak pihak di luar organiation tersebut. 2) Hal ini tidak mungkin untuk menghasilkan laporan yang akan satsify kebutuhan masing-masing pihak. Dengan demikian, proses akuntansi keuangan mengarah pada generasi laporan dianggap laporan keuangan bertujuan umum. 3) Idealnya, pengguna laporan keuangan harus Hava pengetahuan kerja suara dari berbagai standar akuntansi karena, bisa dibilang, tanpa pengetahuan tersebut bisa sulit untuk menafsirkan apa laporan yang benar-benar mencerminkan. 4) hasil akuntansi akan sangat tergantung pada metode akuntansi tertentu yang dipilih, serta pada berbagai penilaian profesional dibuat. Tergantung pada siapa memenuhi laporan akuntansi, ukuran laba dan aktiva bersih sangat bervariasi. Tinjauan Pengembangan Dan Regulasi Praktik Akuntansi Salah satu yang pertama untuk mendokumentasikan praktek akuntansi double entry adalah seorang biarawan Fransiskan dengan nama Pacioli. Sebuah revoew pekerjaan ini menunjukkan bahwa sistem kami saat ini akuntansi double entry sangat mirip dengan yang berkembang ratusan tahun yang lalu. Ada debit dan kredit, dengan debit yang terjadi di sebelah kiri, kredit di sebelah kanan. Ada juga jounrals dan buku besar. Ada kecenderungan meningkat terhadap pandangan bahwa akuntansi keuangan harus mencerminkan berbagai konsekuensi sosial dan lingkungan dari keberadaan entri pelapor. Sayangnya, bagaimanapun, 'tanggal' sistem enty ganda memiliki ketidakmampuan umum untuk mengambil konsekuensi tersebut ke rekening. Sementara akuntansi dan akuntan telah ada selama ratusan tahun, tidak sampai abad kesembilan belas yang akuntan di Inggris dan Amerika Serikat bersatu membentuk asosiasi profesional. Pada bagian awal abad kedua puluh, ada pekerjaan terbatas dilakukan untuk menyusun prinsip akuntansi tertentu atau aturan. Ada pekerjaan yang terbatas undretaken untuk codigy prinsip akuntansi tertentu atau aturan. Ada juga keseragaman sangat terbatas antara metode akuntansi yang dianut oleh organisasi yang berbeda sehingga menciptakan masalah komparabilitas jelas. Pengembangan standar akuntansi wajib adalah fenomena yang relatif baru. Alasan Untuk Mengatur Praktik Akuntansi Keuangan. Kebanyakan negara-negara maju, ada banyak standar akuntansi meliputi penampang macam isu - tapi kita perlu semua peraturan ini? Ada dua sekolah yang luas dari pemikiran tentang masalah ini. 1) Peraturan tidak necessay a) Informasi akuntansi akan siap untuk membayar untuk itu untuk memperpanjang bahwa ia memiliki penggunaan; b) Pasar modal memerlukan informasi dan organ yang gagal untuk memberikan informasi akan dihukum oleh pasar; c) Peraturan akan menyebabkan over-supply informasi sebagai pengguna akan cenderung melebih-lebihkan kebutuhan informasi; d) Peraturan biasanya membatasi metode akuntansi yang dapat digunakan untuk mencerminkan kinerja tertentu dan posisi. 2) Regulasi diperlukan a) Pasar untuk informasi tidak efisien b) Pasar bebas mengabaikan hak investor individu c) Pihak dengan kekuasaan terbatas umumnya tidak akan dapat mengamankan informasi tentang sebuah organisasi d) Peraturan mengarah ke metode seragam diadopsi oleh entitas yang berbeda sehingga meningkatkan komparabilitas e) Investor membutuhkan perlindungan dari organisasi fradulent yang dapat menghasilkan informasi yang menyesatkan. Teori yang tersedia untuk menggambarkan yang mendapatkan manfaat dari peraturan tersebut Teori A. Public Interest peraturan Teori ini mengusulkan bahwa regulasi diperkenalkan untuk melindungi masyarakat. Teori ini mengasumsikan bahwa badan pengawas adalah wasit yang netral dari 'kepentingan umum' dan tidak membiarkan dampak kepentingan sendiri pada proses pembuatan aturan nya. Dasar Pemikiran: Perlindungan mungkin diperlukan sebagai akibat dari pasar yang tidak efisien. Teori Penangkapan Regulasi Sebuah perspektif bertentangan peraturan disediakan oleh teori ditangkap yang berpendapat bahwa meskipun regulasi sering diperkenalkan untuk melindungi masyarakat, mekanisme pengaturan sering kemudian dikontrol (ditangkap) sehingga untuk melindungi kepentingan kelompok kepentingan pribadi tertentu dalam masyarakat. Dasar Pemikiran: 'diatur "cenderung menangkap" regulator ". Posner menyatakan bahwa "tujuan asli dari program regulasi yang kemudian digagalkan melalui upaya kelompok kepentingan. Teori Bunga Ekonomi Regulasi Teori ini mengasumsikan bahwa semua orang bertindak demi kepentingan mereka sendiri, termasuk regulator dan orang-orang yang diatur. Rasional: 'Regulator hanya akan mengusulkan dan regulasi pendukung yang mengarah ke hasil yang menguntungkan bagi diri mereka sendiri, mungkin dalam hal pemilihan ulang mereka.

"Menyibak Makna Di Balik Kemiskinan & Kekayaan”


Kemiskinan dan kekayaan. 2 kata yang simpel, saling berlawanan, dan pastinya memiliki makna yang berbeda-beda tergantung penafsiran dari masing-masing individu. Miskin dan kaya pada umumnya menggambarkan tingkat kesejahteraan dan status sosial di masyarakat. Setiap manusia yang lahir ke dunia pasti memiliki kadar kepuasan atau tingkat kesyukuran atas nikmat yang telah Allah karuniakan. Ada seseorang yang dilihat dari pandangan oranglain dia adalah orang yang bisa dikategorikan miskin. Namun apakah kita bisa menjamin bahwa orang yang kita pandang sebagai orang yang miskin tadi adalah benar-benar miskin? Atau mungkin seseorang yang kita pandang kaya itu benar-benar kaya? Tentu saja tidak kawan. Karena yang merasakan kaya ataupun miskinnya seseorang itu tergantung dari masing-masing individu tersebut bersyukur atas nikmat yang telah dikaruniakan Allah kepadanya. Terkadang manusia selalu memaknai kemiskinan dan kekayaan itu dari sisi material saja, contohnya orang yang kaya itu punya banyak uang, kaya raya, punya rumah yang besar, pekerjaan yang bergengsi, memiliki jabatan yang tinggi, dan lain sebagainya. Namun apakah kita menyadari bahwa ada hal-hal lain yang sifatnya non material?. Bukankah Rasulullah pernah bersabda yang diriwayatkan oleh An-Nasai, Ibnu Hibban dan Tabrani bahwa “Sesungguhnya kekayaan itu adalah kekayaan hati dan kemiskinan adalah kemiskinan hati.” Nah dari sini kita melihat bahwa sungguh orang yang paling baik di muka bumi ini saja memaknai kekayaan dan kemiskinana adalah kekayaan hati dan kemiskinan hati. Lantas apakah kita hanya sebagai manusia biasa menganggap bahwa kemiskinan dan kekayaan itu dilihat dari sisi material saja? Tentu saja tidak. Kemiskinan hati adalah penyakit berbahaya. Orang miskin hati bisa mengumpulkan harta tanpa memperdulikan halal atau haram. Tidak jarang mereka berani menipu dalam bisnis, mengurangi timbangan, mencuri, atau bahkan melakukan kecurangan-kecurangan yang tentunya bertentangan dengan ajaran agama. Allah tidak pernah menjadikan kekayaan dan kekurangan yang meliputi kondisi seseorang sebagai bentuk peniaian kemuliaan atau kerendahan derajatnya di sisi Allah. Namun itu semua adalah ujian atau cobaan yang Allah berikan kepada setiap hamba-nya karena yang menentukan baik buruknya seseorang dilihat dari tingkat ketaqwaannya kapada Allah. Karena kekayaan yang sifatnya material hanya merupakan bekal, hanya merupakan wasilah bagi seseorang menuju akhirat. Meskipun kepentingan di dunia juga selaknya dipenuhi namun kepentingan akhirat jauh lebih penting dan harus dipenuhi. Kemiskinan adalah kebalikan dari kekayaan. Meskipun dua hal ini sangat berbeda, namun kita harus menempatkan fenomena miskin dan kaya sebagai realitas yang harus bersinergi. Islam mewajibkan setiap muslim untuk berpartisipasi menanggulangi kemiskinan sesuai dengan kemampuan dan porsi masing-masing. Keterlibatan seorang muslim dalam memberantas kemiskinan adalah salah satu bentuk tanggungjawab pribadi muslim dalam menyucikan jiwa, harta, serta keluarganya. Di sinilah kemudian Islam sangat mengajarkan solidaritas sosial untuk kesejahteraan bersama. Kemiskinan dan kekayaan tidak ada bedanya di mata Allah, yang membedakan manusia di hadapan Allah hanyalah tingkat ketaqwaan. Sejauh mana kita bersyukur atas karunia-Nya, sabar, ikhlas, berdo’a, ikhtiar, tawakal dan ridha atas taqdir yang ditentukan-Nya, maka sejauh itu pula makna dari kemiskinan dan kekayaan yang dirasakan oleh setiap hamba-Nya.

Minggu, 05 Oktober 2014

BAB I ETIKA BISNIS, PERUBAHAN LINGKUNGAN, DAN STAKEHOLDER


Etika Bisnis dan Mengubah Lingkungan Bisnis dan Pemerintah beroperasi dalam mengubah lingkungan sosial dan politik ekonomi hukum teknologi dengan pemangku kepentingan bersaing dan klaim kekuasaan. Ketika stakeholder dan perusahaan tidak bisa setuju atau menegosiasi klaim yang bersaing di antara mereka sendiri, masalah biasanya pergi ke pengadilan. Stakeholder adalah individu, perusahaan, kelompok dan bahkan Negara-negara yang menyebabkan dan menanggapi isu-isu eksternal, peluang dan ancaman. Skandal perusahaan, globalisasi, deregulasi, merger, teknologi dan terorisme global telah mempercepat laju perubahan dan ketidakpastian di mana para pemangku kepentingan harus membuat keputusan bisnis dan moral. Pasukan Lingkungan dan Stakeholder Organisasi yang tertanam dalam berinterekasi dengan beberapa perubahan lingkungan lokal, nasional dan internasional, sebagai ahli sebelumnya menggambarkan. Lingkungan ini semakin menggabungkan penggabungan ke dalam sistem global dinamis interaksi yang saling terkait antara bisnis dan ekonomi. Lingkungan ekonomi terus berkembang menjadi konteks yang lebih global dagang, merek, dan arus sumber daya. Lingkungan teknologi telah membagi dalam munculnya komunikasi elektronik, jejaring sosial online dan internet, yang semuanya berubah ekonomi, industri perusahaan dan pekerjaan. Pendekatan Manajamen Stakeholder Pendekatan manajemen pemangku kepentingan adalah dengan cara memahami efek etis lingkungan dan kelompok pada isu-isu spesifik yang mempengaruhi stakeholder realtime dan kesejahteraan mereka. Apakah Etika Bisnis ? Mengapa Itu Penting ? Etika “solusi” untuk bisnis dan masalah organisasi mungkin lebih dari satu alternatif dan kadang-kadang tidak ada solusi yang tepat mungkin tampak available. Belajar untuk berfikir, akal dan bertindak etis dapat memungkinkan kita untuk pertama menyadari dan mengenali masalah etika potensial. Kemudian kita mengevaluasi nilai-nilai, asumsi dan penilaian mengenai masalah sebelum kita bertindak. Praktek Bisnis Tidak Etis dan Karyawan Kelima (2007) Nasional Etika Bisnis Survey (NBES) yang diperoleh 1.929 tanggapan mewakili seluruh AS workface 10 menemukan bahwa “ lanskap resiko etika adalah berbahaya dalam bisnis seperti sebelum pelaksanaan Serbanas-Oxeley Act 0f 2002.” Temuan survey dirangkum dalam : 1) Berita Baik: Pertama, pelanggaran etika secara umum sangat tinggi dan cack pada tingkat pra-Enron. Banyak karyawan tidak melaporkan apa yang mereka amati-mereka takut tentang pembalasan dan spektis bahwa laporan mereka akan membuat perbedaan. Satu dari delapan karyawan mengalami beberapa bentuk pembalasan atas laporan kesalahan. Kedua, jumlah perusahaan yang berhasil dalam menggabungkan budaya etika yang kuat perusahaan-lebar ke dalam bisnis mereka telah menurun sejak tahun 2005. Hanay 9 % dari perusahaan memiliki budaya etika yang kuat 2) Berita Buruk: Pertama, jumlah etika formal dan program kepatuhan meningkat. Dalam perusahaan dengan program-program yang dilaksanakan, terjadi peningkatan pelaporan, redusing resiko etika. Kedua, survey telah mampu menunjukkan secara definitive bahwa perusahaan yang bergerak melampaui komitmen tunggal untuk mematuhi undang-undang dan peraturan dan mengadopsi budaya etis perusahaan-lebar secara dramatis mengurangi kesalahan. Etika dan Kepatuhan Program Hanya satu dari empat perusahaan memiliki etika yang diterapkan dengan baik dan program kepatuhan hanya 25 % karyawan : 1) Apakah bersedia untuk mencari nasihat tentang pertanyaan etika yang timbul; 2) Merasa mereka siap untuk menangani situasi yang dapat menyebabkan kesalahan; 3) Menunjukkan bahwa mereka dihargai untuk perilaku etis; 4) Laporakan bahwa perusahaan mereka tidak menghargai keberhasilan yang diperoleh melalui cara-cara dipertanyakan; 5) Katakanlah mereka merasa positif tentang perusahaan mereka. Mengapa Etika Cetakan Dalam Bisnis ? 1) Keuangan dan Ekonomi: “ Melakukan hal yang benar “ penting bagi perusahaan, pembayaran pajak, pengusaha, bertindak secara legal dan etis berarti menyelamatkan miliaran dolar setiap tahun dalam tuntutan hukum, pemukiman dan pencurian. 2) Hubungan, Reputasi, Moral dan Produktivitas: Biaya untuk usaha juga mencakup kerusakan dari hubungan, merusak reputasi, penurunan produktivitas karyawan, kreativitas dan loyalitas, arus informasi tidak efektif di seluruh organisasi dan absensi. 3) Integritas, Budaya, Komunikasi dan Common Good: Bagi para pemimpin bisnis dan manajer, mengelola etis juga berarti mengelola dengan integritas. 4) Integritas/Etika: Delapan pulu delapan persen karyawan di atas 10 pengusaha terbaik setuju atau sangat setuju bahwa rekan kerja ditampilkan integritas dan perilaku etis setiap saat, sedangkan hanya 60 % merasa seperti itu di bagian bawah 10 organisasi. Bekerja untuk Perusahaan Terbaik Karyawan peduli etika karena mereka tertarik untuk etis dan sosial perusahaan yang bertanggung jawab. Meskipun daftar terus berubah, itu adalah instruktif untuk mengamati beberapa karakteristik pengusaha yang baik bahwa karyawan berulang kali mengutip. Karakteristik yang paling sering disebutkan termasuk bagi hasil, bonus dan penghargaan moneter Tingkatan Level Etika Bisnis Karena masalah etika tidak hanya masalah pribadi atau personal, akan sangat membantu untuk melihat tingkat yang berbeda di mana masalah berasal, dan bagaimana mereka saling bergerak tingkat lainnya. Masalah etika dan moral dalam bisnis dapat diperiksa dari setidaknya lima tingkatan, yaitu individu, organisasi, asosiasi, masyarakat dan internasional. Mengajukan Pertanyaan Kunci Hal ini membantu untuk menyadari tingkat etika situasi dan kemungkinan interaksi antara tingkat ketika menghadapi pertanyaan yang memiliki implikasi moral. Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat ditanyakan ketika keputusan bermasalah atau tindakan dianggap (sebelum menjadi dilema etika): 1) Apakah nilai-nilai inti dan keyakinan saya? 2) Apa nilai-nilai inti dan keyakinan organisasi saya? 3) Nilai siapa, keyakinan dan kepentingan mungkin beresiko dalam keputusan ini? Kenapa? 4) Siapa yang akan dirugikan atau dibantu oleh keputusan ini? 5) Bagaimana saya sendiri dan nilai-nilai inti untuk organisasi dan keyakinan terpengaruh atau diubah oleh keputusan ini? 6) Bagaimana saya dan organisasi saya akan terpengaruh oleh keputusan? Mengapa Menggunakan Penalaran Etis Dalam Bisnis? Pertimbangan etis yang diperlukan dalam bisnis setidaknya ada tiga alasan. Pertama, banyak kali hokum tidak mencakup semua aspek atau daerah abu-abu masalah. Kedua, mekanisme pasar bebas dan diatur pasar tidak efektif menginformasikan pemilik konsekuensi etis yang jauh jangkauannya. Ketiga, menyatakan penalaran diperlukan karena masalah moral yang kompleks membutuhkan pemahaman intuitif atau terpelajar dan kepedulian terhadap kejujuran, keadilan, kelompok dan masyarakat. Bisakah Etika Bisnis Diajarkan Secara Terlatih? Karena hukum dan penegakan hukum tidak selalu cukup untuk membantu panduan atau memecahkan masalah manusia yang kompleks yang berhubungan dengan situasi bisnis. Untuk itu ada kursus etika dan pelatihan dapat melakukan hal berikut: 1) Memberikan orang dengan dasar pemikiran, ide dan kosa kata untuk membantu mereka berpartisipasi secara efektif dalam proses etika pengambilan keputusan. 2) Bantuan orang “ masuk akal “ dari lingkungan mereka dengan abstrak dan memilih prioritas etis. 3) Memberikan senjata intelektual untuk melakukan pertempuran dengan pendukung fundamentalis ekonomi dan mereka yang melanggar standar etika. 4) Memungkinkan karyawan untuk bertindadak sebagai system alrm untuk praktik perusahaan yang tidak memenuhi stnadar etika masyarkat. 5) Meningkatkan kesadaran dan kepekaan terhadap isu-isu moral, komitman untuk mencari solusi moral. 6) Meningkatkan refleksi moral dan memperkuat keberanian moral. 7) Meningkatkan kemampuan orang untuk menjadi bermoral, otonom dan hati nurani kelompok. 8) Memperbaiki iklim moral perusahaan dengan memberikan konsep-konsep etika dan alat untuk membuat kode etik dan audit sosial. Ulama lain berpendapat bahwa pelatihan etika dapat menabah nilai lingkungan moral perusahaan dan hubungan di tempat kerja dengan cara berikut: 1) Menemukan pertandingan antara karyawan dan majikan dan nilai-nilai. 2) Mengelola titik push-back, di mana nilai-nilai karyawan diuji oleh rekan-rekan, karyawan dan pengawas. 3) Penanganan directive dari bos. 4) Mengatasi dengan sistem kinerja yang mendorong sudut etika pemotongan. Tahapan pembangunan Moral Tingkat perkembangan moral (yang meliputi enam tahap) menawarkan panduan untuk mengamati tingkat kematangan moral seseorang, terutama karena ia terlibat dalam transaksi organisasi yang berbeda. Apakah dan sejauh mana pendidikan etika dan pelatihan memberikan kontribusi terhadap pembangunan moral. BAB 2 STAKEHOLDER DAN ISU PENDEKATAN MANAJENEN Mengapa Menggunakan Pendekatan Manajemen Stakeholder Untuk Bisnis Etika? Pendekatan pengelolaan stakeholder merupakan respon terhadap pertumbuhan dan kompleksitas perusahaan kontemporer dan kebutuhan untuk memahami bagaimana mereka beroperasi dengan para pemangku kepentingan dan pemegang saham mereka. Teori stakeholder berpendapat bahwa perusahaan harus memperlakukan semua konstituen mereka secara adil dan bahwa hal itu dapat memungkinkan perusahaan untuk tampil lebih baik di pasar. "Jika organisasi ingin menjadi efektif, mereka akan memperhatikan semua dan hanya mereka yang dapat mempengaruhi hubungan atau menjadi dipengaruhi oleh pencapaian tujuan organisasi." Cara yang lebih akrab memahami korporasi adalah "pendekatan pemegang saham," yang berfokus pada hubungan ekonomi dan keuangan. Sebaliknya, pendekatan manajemen pemangku kepentingan adalah metode deskriptif yang mempelajari aktor.11 Pendekatan manajemen stakeholder memperhitungkan kekuatan non-pasar yang mempengaruhi organisasi dan individu, seperti moral, politik, hukum, dan teknologi kepentingan, serta faktor ekonomi. Mendasari pendekatan manajemen stakeholder adalah imperatif etis yang mengamanatkan bahwa bisnis dalam hubungan fidusia kepada pemegang saham mereka: (1) tindakan demi kepentingan terbaik dari dan untuk kepentingan pelanggan, karyawan, pemasok, dan pemegang saham mereka, dan (2) sehubungan dan memenuhi hak-hak stakeholder. Satu studi menyimpulkan bahwa "analisis kami jelas mengungkapkan bahwa beberapa tujuan-termasuk baik pertimbangan ekonomi dan sosial-dapat dan, pada kenyataannya, secara simultan dan berhasil dikejar dalam organisasi besar dan organisasi yang kompleks secara kolektif memperhitungkan bagian utama dari semua kegiatan ekonomi dalam kami masyarakat."12 Pendekatan Manajemen Stakeholder: Kritik dan Tanggapan Kritik dominan dari teori stakeholder oleh beberapa orang terpelajar adalah bahwa perusahaan harus melayani hanya para pemegang saham karena mereka memiliki korporasi tersebut. Hal ini penting untuk mengamati kritik teori stakeholder dan tanggapan terhadap hal ini untuk memahami tujuan teori stakeholder. Berikut kritik dari teori stakeholder yang ditawarkan oleh para orang terpejar: (1) meniadakan dan melemahkan tugas fidusia manajer yang berutang kepada pemegang saham; (2) melemahkan pengaruh dan kekuatan kelompok stakeholder; (3) melemahkan perusahaan; dan (4) perubahan karakter jangka panjang dari sistem kapitalis. Berdasarkan etika, argumen ini didasarkan pada properti dan hak kontrak tersirat, dan pada tugas dan tanggung jawab dari manajer kepada pemegang saham yang bertanggungjawab secara hukum. Para kritikus menganggap bahwa kekuatan beberapa kelompok pemangku kepentingan dapat dilemahkan oleh teori stakeholder dengan memperlakukan semua stakeholder sama-seperti yang disarankan oleh teori stakeholder. Misalnya, serikat buruh dapat dihindari, dirugikan, atau bahkan dihilangkan. Korporasi juga dapat melemah dalam mengejar keuntungan jika mereka mencoba untuk melayani kepentingan stakeholder. Korporasi tidak bisa menjadi segalanya bagi semua stakeholder dan melindungi kepentingan fidusia pemegang saham. Akhirnya, kritik yang menyatakan bahwa teori stakeholder mengubah karakter jangka panjang kapitalisme berpendapat bahwa: (1) perusahaan tidak bertanggung jawab oleh hukum selain kepada pemegang saham mereka, karena disiplin pasar korporasi tetap; dan (2) teori stakeholder memungkinkan beberapa manajer untuk "bermain" di perusahaan dengan menyatakan bahwa mereka melindungi beberapa kepentingan stakeholder, bahkan jika kepentingan orang lain yang dirugikan. Beberapa pemikir lainnya juga mengkritik pendukung teori stakeholder sebagai naif dan utopis. Kritikus ini mengklaim bahwa tujuannya baik "orang yang selalui ingin membantu" diabaikan atau menutupi realitas hubungan kerja modal melalui gagasan sederhana dalam teori stakeholder seperti "partisipasi," "pemberdayaan," dan "mewujudkan potensi manusia."15 Definisi Pendekatan Manajemen Stakeholder Pendekatan manajemen stakeholder didasarkan pada teori instrumental yang berpendapat bahwa "bagian kecil dari prinsip-prinsip etika (keyakinan, kepercayaan, dan kegotongroyongan) dapat menghasilkan keuntungan kompetitif yang signifikan."19 Pada saat yang sama, pendekatan ini mencakup konsep analitis dan metode untuk mengidentifikasi, pemetaan, dan mengevaluasi strategi perusahaan dengan para pemangku kepentingan. Kita lihat metode ini sebagai "analisis stakeholder." Pendekatan manajemen stakeholder, termasuk kerangka kerja untuk menganalisis dan mengevaluasi hubungan korporasi (sekarang dan potensial) dengan kelompok-kelompok eksternal, bertujuan strategis untuk menjangkau "menang-menang" dari hasil kolaborasi. Di sini, "menang-menang" berarti membuat keputusan moral yang bermanfaat bagi kebaikan bersama semua konstituen dalam batasan peradilan, keadilan, dan kepentingan ekonomi. Sayangnya, hal ini tidak selalu terjadi. Biasanya ada pemenang dan pecundang dalam situasi yang kompleks dimana ada yang mempersepsikan jumlah nol (yaitu, situasi di mana ada sumber daya yang terbatas, dan apa yang diperoleh oleh satu orang tentu hilang oleh yang lain). Stakeholder Stakeholder adalah "setiap individu atau kelompok yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh tindakan, keputusan, kebijakan, praktik, atau tujuan organisasi." Kita mulai dengan mengidentifikasi kepentingan stakeholder utama. Hal ini adalah perusahaan atau kelompok yang merupakan fokus dari analisis kami. Stakes (Patokan) Sebuah stake (patokan) adalah kepentingan, berbagi, atau mengklaim bahwa kelompok atau individu ikut andil dalam hasil korporasi kebijakan, prosedur, atau tindakan terhadap orang lain. Stakes mungkin didasarkan pada jenis bunga. Taruhannya stakeholder tidak selalu jelas. Kelayakan ekonomi dari perusahaan yang bersaing bisa dipertaruhkan ketika salah satu perusahaan akan masuk dan bersaing ke pasar. Kesehatan fisik masyarakat bisa dipertaruhkan ketika perusahaan seperti Mattell yang menggunakan jasa pemanufakturan dari luar perusahaan tanpa kontrol kualitas. Cara Menjalankan Analisis Stakeholder Analisis stakeholder adalah cara pragmatis dalam mengidentifikasi dan memahami beberapa (atau seringkali) pernyataan dari banyak konstituen. Sebagai bagian dari pendekatan stakeholder umum, analisis stakeholder adalah metode untuk membantu memahami hubungan antara interaksi antara organisasi dengan kelompok. Setiap situasi berbeda dan karenanya memerlukan peta untuk membimbing strategi organisasi ketika berurusan dengan kelompok-kelompok tertentu, beberapa di antaranya mungkin tidak mendukung isu-isu seperti pekerjaan outsourcing. Pemakaian Perspektif Tujuan Pengamat Pihak Ketiga Anda akan diminta untuk berperan sebagai seorang chief executive officer (CEO) dari perusahaan untuk melaksanakan analisis stakeholder. Namun, disarankan agar Anda mengambil peran " tujuan pengamat pihak ketiga " ketika melakukan analisis stakeholder. Mengapa? Dalam perannya ini, Anda akan diharuskan untuk menangguhkan keyakinan dan penilaian Anda untuk memahami strategi, motif, dan tindakan dari para stakeholder yang berbeda. Anda mungkin tidak setuju dengan organisasi yang tidak sesuai atau CEO yang Anda pelajari. Oleh karena itu, intinya adalah untuk dapat melihat semua sisi dari sebuah isu dan kemudian objektif mengevaluasi klaim, tindakan, dan hasil dari semua pihak. Menjadi lebih obyektif membantu menentukan siapa yang bertanggungjawab atas tindakan, siapa yang menang dan yang kalah, dan apa konsekuensinya. Bagian dari proses pembelajaran dalam latihan ini adalah untuk melihat sendiri titik buta, nilai-nilai, keyakinan, dan hasrat terhadap isu-isu dan stakeholder tertentu. Melakukan analisis stakeholder yang mendalam dengan kelompok memungkinkan orang lain untuk melihat dan mengomentari alasan Anda. Untuk bagian berikutnya, bagaimanapun, mengambil peran CEO sehingga Anda bisa mendapatkan ide dari analisis rasa tanggungjawab terhadap seluruh organisasi. Peran CEO dalam Analisis Stakeholder Analisis stakeholder adalah serangkaian langkah-langkah yang ditujukan untuk tugas-tugas berikut: 1) Petakan atau gambarkan hubungan antar stakeholder 2) Petakan atau gambarkan kerjasama antar stakeholder 3) Nilai sifat masing-masing tujuan yang akan dicapai stakeholder 4) Nilai sifat masing-masing kekuatan yang dimiliki oleh stakeholder 5) Buatlah sebuah kerangka matrik tanggungjawab moral kepada stakeholder 6) Kembangkan strategi dan taktik tertentu 7) Pantau pergeseran kesatuan stakeholder Ringkasan Analisis Pemangku Kepentingan Analisis pemangku kepentingan memberikan, dasar sistematis rasional untuk understanding masalah dan "etika dalam aksi" yang terlibat dalam relasi kompleks tionships antara organisasi, para pemimpinnya, dan konstituen. Ini membantu pengambil keputusan struktur sesi perencanaan strategis dan memutuskan bagaimana untuk memenuhi kewajiban moral seluruh pemangku kepentingan. Sejauh mana strategi yang dihasilkan dan hasil bermoral dan efektif bagi perusahaan dan para pemangku kepentingan tergantung pada banyak faktor, termasuk nilai-nilai pemimpin perusahaan, kekuatan stakeholder, legitimasi-kegiatan yang tions, penggunaan sumber daya yang tersedia, dan urgensi dari perubahan yang lingkungan. Negosiasi Metode: Menyelesaikan Perselisihan Stakeholder Perselisihan adalah bagian dari hubungan stakeholder. Kebanyakan perselisihan ditangani dalam konteks hubungan saling percaya saling menguntungkan antara para pemangku kepentingan; lain pindah ke sistem hukum dan peraturan. Perselisihan terjadi antara berbeda tingkat pemangku kepentingan: misalnya, antara profesional dalam sebuah organisasi tion, konsumen dan perusahaan, bisnis ke bisnis (B2B), pemerintah dan bisnis, dan di antara koalisi dan bisnis. Stakeholder Metode Penyelesaian Sengketa Penyelesaian sengketa adalah keahlian juga dikenal sebagai "sengketa alternatif Resolusi "(ADR). Teknik penyelesaian sengketa mencakup berbagai meth- ods dimaksudkan untuk membantu berperkara potensial menyelesaikan konflik. metode dapat dilihat pada sebuah kontinum mulai dari tatap muka negosiasi untuk litigasi Pendekatan manajemen pemangku kepentingan melibatkan berbagai dis- teknik resolusi pute, meskipun idealnya lebih integratif dan relasional daripada metode distributif atau berbasis kekuasaan akan berusaha dulu. Pendekatan berbasis kekuatan didasarkan pada otoriter dan metode berbasis persaingan, dimana kelompok atau individu yang lebih kuat “menang” dan pihak lawan “kalah”. Pendekatan ini dapat menyebabkan perselisihan lain muncul. Pendekatan gabungan mempunyai karakteristik sebagai berikut: 1) Masalah dilihat mempunyai banyak solusi daripada jelas dengan segera. 2) Sumber daya dipandang sebagai sesuatu yang dapat dapat dikembangkan, tujuannya adalah untuk “memperluas kue” sebelum membaginya. 3) Pihak2 berusaha menciptakan solusi yang lebih potensial dan proses2 yang demikian dikatakan sebagai “pencipta nilai”. 4) Pihak2 mencoba untuk menampung sebanyak mungkin kepentingan dari tiap2 pihak. 5) Disebut juga pendekatan “win-win” atau “semua untung”. Pendekatan distributif mempunyai karakteristik sebagai berikut: 1) Masalah dilihat sebagai “zero sum” 2) Sumber daya diimajinasikan tetap: “membagi kue” 3) “Nilai diakui” 4) Tawar menawar atau “memisahkan perbedaan”32 Pendekatan relational (yang mempertimbangkan kekuatan, kepentingan, hak, dan etika) termasuk dan berdasarkan atas: 1) “Pembangunan hubungan” 2) “Naratif”, “perundingan”, dan “dialogical” (yaitu berdasarkan dialog) 3) Keadilan dan rekonsiliasi restroratif (yaitu pendekatan yang menghormati martabat setiap orang, membangun pengertian, dan menyediakan kesempatan bagi korban untuk mendapatkan pemulihan dan bagi pelanggar untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka) 4) Pendekatan “transformatif” lain untuk membangun kedamaian.33 Proses negosiasi berprinsip dari Roger Fry dan William Ury, Getting to Yes, terus digunakan untuk hampir semua jenis sengketa. Empat prinsip itu adalah: 1) Pisahkan orangnya dari masalahnya. 2) Fokus pada kepentingan, bukan pada posisi. 3) Menciptakan pilihan untuk keuntungan bersama. 4) Bersikeras pada kriteria obyektif, tidak pernah menyerah pada tekanan. Ajudikatif, legislatif, keadilan yang menguatkan, reparasi, dan pendekatan berbasis hak dibutuhkan ketika hak, properti, atau hal2 yang sah lainnya telah dilanggar dan dirugikan. Para pemimpin dan profesional yang mempraktekkan sebuah pendekatan manjemen pemangku kepentingan, menggabungkan dan mendapatkan kemahiran dalam berbagai konflik dan penyelesaian sengketa alternatif.35 Pendekatan Stakeholder dan Pertimbangan Etika Pertimbangan etika pada analisis stakeholder melibatkan pertanyaan “Apakah yg adil, jujur, dan baik bagi mereka yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh bisnis perusahaan? Siapakah stakeholder yg paling lemah kekuatan dan pengaruhnya? Siapakah yg dapat, akan, dan seharusnya membantu stakeholder yg paling lemah agar suaranya terdengar dan mendorong partisipasi mereka dalam proses pengambilan keputusan?” Akhirnya, analisis stakeholder membutuhkan stakeholder utama untuk menentukan dan memenuhi kewajiban etis mereka kepada konstituen yg terpengaruh. Tanggung Jawab Moral Dari Area Lintas Fungsional Profesional Salah satu tujuan dari analisis stakeholder adalah untuk mendorong dan mempersiapkan manajer organisasi untuk mengucapkan dengan jelas tanggung jawab moral mereka sendiri, sebaik tanggung jawab kepada perusahaan dan profesi mereka, menuju konstituen mereka yg berbeda. Analisis stakeholder fokus kpd perhatian dan keputusan moral perusahaan yg berproses pada peristiwa2 eksternal. Pendekatan stakeholder juga diterapkan secara internal, khususnya pada manajer individual di area2 fungsional tradisional. Para manajer ini dapat dilihat sebagai saluran melalui dimana stakeholder eksternal yg lain terpengaruh. Marketing dan Sales Profesional dan Manajer sebagai Stakeholder Sales profesional dan manajer terus terlibat – secara elektronik dan/atau tatap muka – dengan pelanggan, pemasok, dan vendor. Sales profesional juga dievaluasi berdasarkan kuota dan ekspektasi hitungan basis mingguan, bulanan, dan triwulanan. Stress dan tekanan utk memenuhi harapan selalu ada. Sales profesional harus secara kontinyu menyeimbangkan etika diri dan tekanan profesi mereka. Dilema sering muncul: “Siapa yg saya wakili? Bobot apa yg dimiliki kepercayaan dan etika saya saat diukur dibandingkan dengan penilaian kinerja departemen dan perusahaan pada saya?” Pertanyaan penting yang lain untuk sales profesional adalah “Dimana batas antara praktik yg tidak etis dan etis bagi saya?” R&D, Engineering Professionals, dan Manajer sebagai Stakeholder Manajer R&D dan insinyur bertanggungjawab atas keamanan dan keandalan desain produk. Produk yang salah dapat menyebabkan kemarahan publik, yang dapat mengakibatkan liputan media yang tidak diinginkan dan mungkin (mungkin dibenarkan) tuntutan hukum. Manajer R&D harus bekerja dan berkomunikasi secara efektif dan sungguh2 dengan profesional dalam bidang manufaktur, pemasaran, dan sistem informasi; manajer senior; kontraktor; dan perwakilan pemerintah, sampai beberapa stakeholder mereka. Akuntansi dan Keuangan Profesional dan Manajer sebagai Stakeholder Akuntansi dan keuangan profesional bertanggung jawab untuk kesejahteraan klien dengan menjaga kepentingan keuangan mereka. Perencana keuangan, broker, akuntan, pengelola reksa dana, bankir, ahli penilaian, dan agen asuransi memiliki tanggung jawab untuk memastikan handal dan akurat transaksi dan pelaporan uang dan aset orang lain. Banyak profesi ini adalah bagian dari industri diatur; Public Relations Manajer sebagai Stakeholder Public relations (PR) manajer harus terus-menerus berinteraksi dengan kelompok-kelompok di luar dan eksekutif perusahaan, terutama di zaman ketika media yang komunikasi, hubungan eksternal, dan bermain pengawasan publik peran penting tersebut. Manajer PR bertanggung jawab untuk transmisi, penerimaan, dan menafsirkan informasi tentang karyawan, produk, jasa, dan perusahaan. Sumber Manajer manusia sebagai Stakeholder Manajer sumber daya manusia (HRMS) berada di garis depan membantu lainnya manajer merekrut, mempekerjakan, api, mempromosikan, mengevaluasi, penghargaan, disiplin, transfer, dan karyawan nasihat. Mereka bernegosiasi permukiman serikat dan membantu pemerintah dengan menegakkan Equal Employment Opportunity Commission (EEOC) standar. Ringkasan Tanggung jawab Moral Manajerial Ahli dan manajer area fungsional dihadapkan dengan menyeimbangkan tujuan keuntungan operasional dan kewajiban moral perusahaan terhadap stakeholders. Tekanan tersebut dianggap "bagian dari pekerjaan." Sayangnya, jelas arah perusahaan untuk menyelesaikan dilema yang melibatkan konflik antara hak-hak individu dan kepentingan ekonomi perusahaan umumnya tidak tersedia. Menggunakan analisis stakeholder adalah "seperti berjalan di sepatu lain profesional. "Anda mendapatkan rasa tekanan nya. Menggunakan pemangku kepentingan yang Analisis adalah langkah untuk mengklarifikasi isu yang terlibat dalam menyelesaikan etis dilema. Permasalahan Manajemen, Stakeholder Pendekatan, Dan Etika: Integrasi Kerangka Metode Isu manajemen melengkapi pendekatan manajemen stakeholder. Mungkin akan membantu untuk memulai dengan mengidentifikasi dan menganalisis isu-isu utama sebelum melakukan analisis pemangku kepentingan. Banyak perusahaan besar terkemuka menggunakan masalah manajer dan metode untuk mengidentifikasi, melacak, dan menanggapi tren yang menawarkan peluang potensial, serta ancaman terhadap perusahaan. Sebelum membahas cara mengintegrasikan manajemen pemangku kepentingan (dan analisis) untuk isu-isu manajemen, manajemen isu didefinisikan. Apa Itu Publik "Issue"? Isu adalah masalah, pertentangan, atau argumen yang menyangkut kedua organisasi dan satu atau lebih dari para pemangku kepentingan dan / atau pemegang saham. Juga, "Pikirkan dari masalah seperti kesenjangan antara tindakan dan harapan stakeholder”. Kedua, memikirkan isu manajemen sebagai proses yang digunakan untuk menutup kesenjangan tersebut. Kesenjangan bisa ditutup dalam beberapa cara, dengan menggunakan beberapa strategi. Metode utama adalah menggunakan kebijakan akomodatif. Memberikan pendidikan publik, dialog masyarakat, dan mengubah harapan melalui komunikasi beberapa strategi akomodatif yang digunakan dalam manajemen isu. Memecahkan masalah rumit kadang-kadang membutuhkan tindakan radikal, seperti mengganti anggota dari dewan direksi dan tim manajemen senior. Masalah Umum Lainnya Ada jenis lain dari isu-isu publik dari lingkungan eksternal yang melibatkan perusahaan yang berbeda dan industri. Misalnya, masalah obesitas telah menjadi menonjol di Amerika Serikat. Setelah dianggap sebagai masalah gaya hidup pribadi, obesitas kini dipandang sebagai penyakit kesehatan masyarakat, dengan pengobatannya harus dibayar oleh asuransi kesehatan seseorang. Masalah ini melibatkan perusahaan asuransi, perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan individu menghadapi ini masalah, pengacara ketenagakerjaan, keluarga dari orang-orang yang terkena dampak, dan pembayar pajak, untuk beberapa nama. Isu publik lain yang mempengaruhi banyak pemangku kepentingan adalah driver yang minum. Ibu AS yang telah kehilangan anak anak mereka fenomena yang berkembang ini telah menemukan bahwa masalah ini tidak satu set peristiwa yang terisolasi, tapi luas. Stakeholder dan Isu Manajemen: "Menghubungkan Dots" Isu dan manajemen pemangku kepentingan digunakan secara bergantian oleh para sarjana dan praktisi perusahaan, sebagai dua kutipan berikut menggambarkan: Bagi banyak keadaan sulit sosial, pemangku kepentingan dan isu-isu mewakili dua sisi yang saling melengkapi dari coin sama. Stakeholder cenderung untuk mengatur sekitar isu-isu "panas", dan isu-isu biasanya terkait dengan kelompok pemangku kepentingan vokal tertentu. Sarjana isu-isu manajemen Oleh karena itu dapat menjelajahi bagaimana isu-isu manajemen memerlukan prioritas pemangku kepentingan, dan bagaimana manajemen pemangku kepentingan akan difasilitasi ketika manajer memiliki pengetahuan yang mendalam tentang isu agenda pemangku kepentingan. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa apakah atau tidak stakeholder memutuskan untuk terlibat dengan isu-isu tertentu memiliki pengaruh besar pada masalah evolusi, dan seperti halnya waktu dan tingkat mereka keterlibatan. Tingkatan keempat Model “siklus hidup” Thomas Marx menawarkan sebuah model yang berkaitan sebagai fase ketujuh dari kerangka yang disampaikan diatas. Marx mengamati bahwa permasalahan berkembang dari tingkatan yang keempat “siklus hidup” dari harapan sosial ke kontrol sosial seperti pada tahapa-tahap berikut (Figur 2.10). 1) Harapan social 2) Permasalahan politik 3) Undang-undang 4) Kontrol sosial Mengelola Krisis Metode “manajemen krisis” dikembangkan dari mempelajari bagaimana perusahaan dan para pemimpin merespon krisis. Menggunakan manajemen krisis dengan metode pemegang kepentingan adalah penting untuk memahami dan kemungkinan untuk mencegah kegagalan di masa depan karena krisis terus berlanjut dalam beberapa area: produk/krisis jasa (contohnya kecelakaan JetBlue tahun 2007 akibat cuaca), sistem keuangan (kasus Enron), dan proyek pemerintah/kontraktor privat. Sir Michael Bishop merespon krisis yang dia hadapi dalam cerita sebelumnya adalah sebuah cerita kesuksesan. Sayangnya, kebanyakan pemimpin perusahaan tidak meresponnya secara berani. Bagaimana Para Eksekutif Telah Merespon Krisis Bagaimanapun juga, sebuah model krisis manajemen klasik telah dikembangkan oleh Matthews, Goodpaster, dan Nash memberikan anjuran sebuah tipe yang berbeda dari mode respon CEO dalam lima fase dari respon sosial perusahaan kepada krisis berhubungan dengan produk krisis manajemen. Model ini berdasar pada studi penulis tentang bagaimana perusahaan harus merespon krisis yang serius. Fase tersebut adalah (1) reaksi, (2) pertahananan, (3) wawasan, (4) akomodasi, dan (5) agensi (Figur 2.12). Baca ulang kasus Mattel pada akhir bab ini dan terpakan metode manajemen krisiss ini selama anda melanjutkan membaca. Rekomendasi Manajemen Krisis Rekomendasi taktis berikut ini juga membantu pencegahan dan penanganan krisis teknik: 1) Memahami seluruh bisnis Anda dan dependensi 2) Pahami bisnis Anda memberikan dasar bagi semua kebijakan dan proses selanjutnya didasarkan dan, oleh karena itu, tidak boleh terburu-buru 3) Melaksanakan penilaian dampak bisnis 4) Setelah mengidentifikasi proses misi kritis, penting untuk menentukan apa dampaknya jika krisis terjadi. Proses ini harus menilai kualitatif (seperti tingkat keuangan dan layanan) dan kualitatif (seperti operasional, reputasi, hukum dan peraturan) dampak yang mungkin timbul dari krisis dan tingkat minimum sumber daya untuk pemulihan. 5) Lengkapi penilaian risiko 360 derajat 6) Ini digunakan untuk menentukan ancaman internal dan eksternal yang dapat menyebabkan gangguan dan kemungkinan kejadian serupa. Memanfaatkan pengakuan teknik risiko, skor dapat dicapai, seperti tinggi menengah rendah, satu untuk 10, pr tidak dapat diterima / risiko yang dapat diterima 7) Mengembangkan respon yang layak, relevan, dan menarik 8) Ada dua bagian untuk tahap ini: mengembangkan respon rinci untuk insiden dan perumusan rencana krisis bisnis yang mendukung respon tersebut 9) Rencana penggunaan, pemeliharaan, dan audit 10) Sebuah rencana krisis bisnis tidak dapat dianggap handal sampai telah diuji. Menggunakan rencana tersebut cukup penting, sebagai rencana belum teruji menjadi rencana dipercaya. Akhirnya, masalah, metode manajemen krisis dan teknik pencegahan hanya afektif dalam perusahaan jika: 1) Manajemen puncak adalah pendukung dan berpartisipasi 2) Keterlibatan adalah lintas departemen 3) Isu unit manajemen cocok dengan budaya perusahaan 4) Output, bukan proses, adalah fokus

TEORI AKUNTANSI: CONCEPTUAL FRAMEWORK (SFAC 1-7 DAN IAI)


SFAC No. 1 Objectives of Financial Reporting by Business Enterprises (1978) Menekankan pada tujuan pelaporan keuangan perusahaan yaitu untuk menyediakan informasi yang berguna dalam proses pengambilan keputusan bisnis dan ekonomi. Statement ini merupakan turunan dari Trueblood Report dengan beberapa judgment penilaian yang lebih berorientasi pada pengguna. Statement ini berasumsi bahwa pengguna laporan keuangan memiliki kemampuan dalam membaca informasi yang terdapat didalamnya. Selain itu, statement ini juga menyatakan pentingnya stewardship untuk menaksir seberapa baik manajemen melaksanakan tugas dan kewajibannya kepada pemilik dan pihak lain yang berkepentingan. Berikut ini merupakan beberapa judgment penilaian penting yang dibuat melalui laporan: 1) Manfaat penggunaan informasi lebih besar daripada biaya yang digunakan untuk menyediakan informasi tersebut. 2) Laporan akuntansi bukan satu- satunya sumber informasi mengenai perusahaan. 3) Accrual accounting sangat berguna dalam menaksir dan memprediksi earning power dan aliran kas suatu perusahaan. 4) Informasi yang disediakan harus bermanfaat, tapi pengguna membuat keputusan dan penaksiran mereka sendiri. SFAC No. 2 Qualitative Characteristics of Accounting Information (1980) Istilah karakteristik kualitatif pernah disebutkan dalam APB Statement 4. Namun yang dibahas di sini merupakan lanjutan dari ASOBAT. Statement No. 2 ini menempatkan kepentingan pengambil keputusan sebagai pusat perhatian. Manfaat informasi haruslah melebihi biaya untuk menyediakannya. Dengan demikian understandability merupakan kualitas penting yang harus dipenuhi, sekaligus menjadi hambatan besar. 1) Relevance 2) Predictive Value 3) Feedback Value 4) Timeliness 5) Reliability 6) Verifiability 7) Representational faithfulness 8) Neutrality SFAC No. 3 Elements of Financial Statements of Business Enterprises (1980) Mendefinisikan 10 elemen laporan keuangan yang akan diamandemen oleh SFAC No. 6. Statement No. 3 ini menyebutkan tiga pandangan akuntansi keuangan (revenue-expense, asset-liability, dan nonarticulated) yang dibicarakan lebih lanjut dalam diskusi memorandum. Statement ini tidak menyebutkan secara spesifik tipe konsep capital maintenance yang digunakan maupun masalah pengakuan (realization) dan pengukuran yang disajikan dalam laporan keuangan. SFAC No. 3 juga mengganti istilah earning menjadi income untuk mengindikasikan comprehensive atau perubahan total dalam net asset yang terjadi selama periode sebagai hasil dari kegiatan operasi perusahaan. SFAC No. 4 Objectives of Financial Reporting by Nonbusiness Organizations (1980) Lebih menekankan pada pelaporan keuangan entitas non bisnis yang memiliki karakter sebagai berikut: 1) Menerima jumlah sumber daya yang signifikan dari penyumbang yang tidak menginginkan imbalan atau proporsi ekonomi atas sumbangan yang diberikan. 2) Tujuan utama operasinya bukan untuk menyediakan barang dan jasa demi mendapatkan profit. 3) Tidak ada hak kepemilikan yang dapat dijual, dipindahkan, atau menerima distribusi sisa jika terjadi likuidasi. SFAC No. 4 juga menyatakan bahwa entitas non bisnis tidak memiliki indicator tunggal atas kinerja entitas seperti pengukuran income pada sector profit oriented. SFAC No. 5 Recognition and Measurement in Financial Statement of Business Enterprises (1984) Statement ini berkaitan dengan isu pengakuan dan pengukuran. Pada paragraph 2 disebutkan bahwa kriteria dan pedoman pengakuan yang terdapat pada statement ini umumnya konsisten dengan praktik yang dilakukan saat ini. Perubahan akan dilakukan secara evolusi atau perlahan. SFAC ini juga mengatur mengenai kriteria pengakuan dimana untuk mengakui atau mencatat revenue dan gain, asset yang diterima harus realized or realizable atau revenue tersebut sudah dihasilkan (earned). Sedangkan untuk mengakui biaya dan rugi, asset yang digunakan harus telah digunakan atau asset tersebut tidak memiliki manfaat lagi di masa mendatang. Metode pengakuan biaya termasuk matching revenue, write- off selama periode saat kas dihabiskan atau kewajiban terjadi untuk item biaya dalam jangka waktu yang sangat pendek, atau prosedur sistematik rasional yang lain. SFAC No 6, “ELEMENTS OF FINANCIAL STATEMENTS “ (menggantikan SFAC No. 3, mengamandemen SFAC No. 2) LINGKUP DAN ISI PERNYATAAN 1) Pernyataan ini mendefinisikan 10 unsur laporan keuangan; 7 unsur laporan keuangan yang berlaku untuk perusahaan (entitas) bisnis dan organisasi nirlaba- aset, kewajiban, ekuitas (perusahaan bisnis) atau aset bersih (organisasi nirlanba/nonprofit), pendapatan, beban, keuntungan, dan kerugian- dan 3 unsur laporan keuangan yang hanya untuk perusahaan bisnis- investasi oleh pemilik, distribusi kepada pemilik, dan laba komprehensif. Pernyataan ini juga mendefinisikan 3 kelompok aset bersih organisasi nirlaba dan perubahan di dalamnya selama satu periode. 2) Pernyataan ini menggantikan SFAC No. 3, “unsur-unsur laporan keuangan untuk organisasi bisnis”, memperluas sampai mencakup organisasi nirlaba. DEFINISI Aset Aset; manfaat ekonomi yang mungkin terjadi di masa depan, yang diperoleh atau dikendalikan oleh entitas tertentu sebagai akibat dari transaksi atau kejadian di masa lalu. Kewajiban (Liabilitas) Kewajiban; pengorbanan ekonomi yang mungkin terjadi di masa depan, yang timbul dari kewajiban berjalan (saat ini) sebuah entitas- kewajiban yang ditimbulkan oleh transaksi atau kejadian masa lalu untuk mentransfer aset atau menyediakan jasa kepada entitas lain di masa depan. Ekuitas (Aset Bersih) Ekuitas atau aset bersih adalah hak residual atas aset suatu entitas yang tersisa setelah dikurangi kewajibannya. Investasi Oleh dan Distribusi Kepada Pemilik Investasi oleh pemilik; kenaikan aset bersih sebuah perusahaan yang ditimbulkan oleh transfer sesuatu yang bernilai dari entitas lain kepada perusahaan tersebut untuk mendapatkan atau menaikkan kepentingan kepemilikan (atau ekuitas) di dalamnya. Aset adalah bentuk yang paling umum diterima sebagai invetsasi oleh pemilik, tetapi investasi ini bisa juga meliputi jasa atau kepuasan atau konversi kewajiban perusahaan. Laba Komprehensif dari Entitas Bisnis Laba komprehensif; perubahan ekuitas (aset bersih) suatu entitas selama suatu periode yang diakibatkan oleh transaksi atau kejadian lain yang bukan bersumber dari pemilik. Hal ini termasuk semua perubahan ekuitas selama suatu periode kecuali perubahan yang diakibatkan oleh investasi oleh pemilik dan distribusi kepada pemilik. Pendapatan Pendapatan; arus masuk atau peningkatan lainnya atas aset sebuah entitas atau pelunasan kewajiban (atau kombinasi dari keduanya) selama suatu periode dari pengiriman atau produksi barang, penyediaan jasa, atau aktivitas-aktivitas lain yang merupakan operasi utama atau operasi sentral perusahaan. Beban Beban; arus keluar atau penggunaan lainnya atas aset sebuah entitas atau terjadinya kewajiban (atau kombinasi dari keduanya) selama suatu periode dari pengiriman atau produksi barang, penyediaan jasa, atau aktivitas lain yang merupakan operasi utama atau operasi sentral perusahaan. Karakteristik Beban Keuntungan dan Kerugian Keuntungan; kenaikan ekuitas (aset bersih) sebuah perusahaan yang ditimbulkan oleh transaksi peripheral atau insedentil dan dari semua transaksi serta kejadian lainnya dan situasi yang mempengaruhi perusahaan selama suatu periode kecuali yang berasal dari pendapatan atau investasi oleh pemilik. Aset Bersih pada Organisasi Nirlaba Dalam sebuah organisasi nirlaba, seperti pada entitas bisnis, aset bersih (ekuitas) adalah sisa, perbedaan antara aset dan kewajiban entitas tetapi, berbeda dengan ekuitas (entitas bisnis), itu bukan kepemilikan. Karakteristik yang membedakan dari organisasi nirlaba termasuk tidak adanya kepentingan kepemilikan dalam arti yang sama pada badan usaha (bisnis), tujuan operasi tidak berpusat pada keuntungan, dan penerimaan yang signifikan dari kontribusi, banyak melibatkan donor-dikenakan pembatasan. SFAC NO. 7 “USING CASH FLOW INFORMATION AND PRESENT VALUE IN ACCOUNTING MEASUREMENT” PRESENT VALUE (NILAI SEKARANG) DI PENGAKUAN AWAL ATAU PENGUKURAN FRESH-START ACCOUNTING Sebuah pengukuran nilai sekarang, sepenuhnya menangkap perbedaan ekonomi antara lima aset yang dijelaskan di atas akan selalu mencakup unsur-unsur berikut: 1) Perkiraan arus kas masa depan, atau dalam kasus yang lebih kompleks, serangkaian arus kas masa depan pada waktu yang berbeda. 2) Harapan tentang kemungkinan variasi dalam jumlah atau waktu arus kas 3) Nilai waktu dari uang, yang diwakili oleh risiko tingkat bunga bebas 4) Harga untuk menanggung ketidakpastian yang melekat dalam aset atau kewajiban 5) Lainnya, kadang - kadang tidak teridentifikasi, faktor - faktor termasuk likuidasi dan ketidaksempurnaan pasar. Konvensi akuntansi yang ada berbeda dalam sejauh mana mereka menggabungkan lima elemen. a) Nilai wajar menggambarkan semua lima elemen menggunakan perkiraan dan harapan bahwa partisipasi pasar akan berlaku dalam menentukan jumlah di mana aset tersebut (atau kewajiban) bisa dibeli (atau dikeluarkan) atau dijual (atau diselesaikan) dalam transaksi kini antara pihak yang berkeinginan. b) Value-in-use dan pengukuran entity-spesific berupaya untuk menggambarkan nilai dari aset atau kewajiban dalam konteks entitas tertentu. Pengukuran entity-spesific dapat diterapkan untuk menangkap semua lima elemen. c) Pengukuran penyelesaian yang efektif mewakili jumlah aktual dari aset yang jika diinvestasikan hari ini pada tingkat bunga yang ditetapkan akan memberikan arus kas masa depan yang sesuai dengan kas keluar untuk kewajiban tertentu. d) Biaya-akumulasi atau pengukuran biaya akrual berusaha untuk menggambarkan biaya (biasanya tambahan biaya) bahwa entitas mengantisipasi hal itu akan dikenakan dalam memperoleh aset atau dalam penyelesaian kewajiban dalam jangka waktu yang diharapkan. Prinsip Umum Prinsip-prinsip umum tertentu mengatur penggunaan teknik present value dalam pengukuran aset atau kewajiban: a) Sedapat mungkin, estimasi arus kas dan tingkat suku bunga harus mencerminkan asumsi tentang peristiwandan ketidakpastian masa depan yang akan dipertimbangkan dalam memutuskan apakah akan memperoleh aset atau kelompok aset dalam transaksi yang wajar untuk kas. b) Suku bunga yang digunakan untuk mendiskonto arus kas harus mencerminkan asumsi yang konsisten dengan yang melekat dalam estimasi arus kas. Jika tidak, efek dari beberapa asumsi akan secara ganda dihitung atau diabaikan. c) Perkiraan arus kas dan tingkat suku bunga harus bebas dari bias dan faktor yang tidak terkait dengan aset, kewajiban, atau kelompok aset atau kewajiban yang bersangkutan. d) Perkiraan arus kas atau suku bunga harus mencerminkan berbagai hasil yang mungkin dari jumlah yang mungkin yang paling-mendekati (hampir sama), minimal, atau maksimum. Present Value dalam Pengukuran Kewajiban Konsep-konsep yang diuraikan dalam Pernyataan ini berlaku untuk kewajiban serta aset. Namun, pengukuran kewajiban kadang-kadang melibatkan masalah yang SFAC NO. 8 “CONCEPTUAL FRAMEWORK FOR FINANCIAL REPORTING (menggantikan SFAC No. 1 dan No. 2) TUJUAN UMUM PELAPORAN KEUANGAN Tujuan, Kegunaan, dan Keterbatasan Tujuan Umum Pelaporan Keuangan Tujuan umum laporan keuangan menyediakan informasi tentang posisi keuangan suatu entitas pelaporan, yaitu informasi tentang sumber daya ekonomi entitas dan klaim terhadap perusahaan pelapor. Laporan keungan juga memberikan informasi tentang dampak transaksi dan peristiwa lain yang mengubah sumber daya ekonomi suatu entitas pelaporan dan klaim. KARAKTERISTIK KUALITATIF INFORMASI KEUANGAN Relevansi Materialitas Representasi Tepat Komparatif (Dapat Dibandingkan) Verifiability (Dapat Diuji) Understandability (Dapat Dimengerti) Nama : Sri Apriyanti Husain Nim : 146020300111009 Tugas : RMK Mata Kuliah : Teori Akuntansi DEEGAN CHAPTER 1 (FINANCIAL ACCOUNTINH THEORY) TEORI AKUNTANSI KEUANGAN Gambaran Singkat Teori Akuntansi Ada banyak teori akuntansi keuangan. Artinya, tidak ada teori tentang akuntansi keuangan yang diterima secara universal atau bahkan, secara universal disepakati perspektif tentang bagaimana teori akuntansi harus dikembangkan. Dalam bagian ini karena peneliti yang berbeda memiliki perspektif yang berbeda tentang peran teori akuntansi dan / atau apa tujuan utama, peran dan ruang lingkup akuntansi keuangan yang seharusnya. Sebagai contoh, beberapa peneliti percaya bahwa peran utama dari teori akuntansi harus menjelaskan dan memprediksi fenomena akuntansi tertentu yang terkait (misalnya, untuk menjelaskan mengapa beberapa akuntan mengadopsi satu metode akuntansi tertentu, sementara yang lain memilih untuk mengadopsi sebuah pendekatan alternatif), sementara peneliti lainnya percaya bahwa peran teori akuntansi adalah untuk menetapkan (sebagai lawan untuk menggambarkan) pendekatan khusus untuk akuntansi (misalnya, didasarkan pada perspektif tentang peran akuntansi, ada teori yang mengatur bahwa aset harus dinilai berdasarkan nilai pasar dari pada biaya historis). Perkembangan awal teori akuntansi bergantung pada proses induksi, yaitu, pengembangan ide-ide atau teori melalui observasi. Dari sekitar 1920-an sampai 1960-an, teori akuntansi yang terutama dikembangkan berdasarkan pengamatan dari apa yang benar-benar dilakukan akuntan dalam praktek. Praktek umum kemudian dikodifikasikan dalam bentuk doktrin atau konvensi akuntansi (misalnya, doktrin konservasi). Teori terkenal saat ini termasuk Paton, 1922; Hatfield, 1927; Paton dan Littleton, 1940, dan Canning, 1929. Dalam menghasilkan teori-teori akuntansi berdasarkan apa akuntan benar-benar melakukannya, diasumsikan (sering implisit) bahwa, apa yang dilakukan oleh sebagian besar akuntan adalah praktek yang paling tepat. Dalam mengadopsi perspektif seperti ada, dalam arti, perspektif Darwinisme akuntansi berpandangan bahwa praktek akuntansi telah berkembang, dan yang terkuat, atau mungkin 'terbaik', praktek telah bertahan. Setelah era “Induktif” penelitian akuntansi, banyak pekerjaan yang dilakukan oleh para peneliti akuntansi pada tahun 1960 dan 1970-an berusaha untuk menetapkan prosedur akuntansi tertentu, dan karena itu tidak didorong oleh praktek-praktek yang ada. Pada saat ini ada cenderung inflasi luas di seluruh berbagai negara di dunia dan banyak penelitian dan teori-teori terkait berusaha menjelaskan keterbatasan akuntansi biaya historis dan untuk memberikan pendekatan yang lebih baik (berdasarkan pertimbangan nilai tertentu yang dipegang oleh para peneliti) untuk penilaian aset pada saat harga cepat naik. Antara pertengahan hingga akhir tahun 1970 ada perubahan lebih lanjut dalam fokus penelitian akuntansi dan pengembangan teori. Pada saat itu banyak penelitian akuntansi memiliki tujuan utama untuk menjelaskan dan memprediksi praktik akuntansi, daripada penentuan pendekatan tertentu. Ketika yang ditunjukkan, ada gerakan oleh para peneliti akuntansi jauhnya dari penelitian deskriptif dan lagi terhadap penelitian preskriptif. Namun banyak peneliti masih melakukan penelitian deskriptif. Kompleksitas Informasi Akuntansi Keuangan dan Pelaporan Lingkungan akuntansi sangat kompleksitas dan sangat menantang. Ini adalah kompleks karena produk akuntansi adalah informasi kuat dan penting komoditas. Alasan utama untuk kompleksitas ini adalah tidak adanya konsep akuntansi sempurna atau benar dan standards. Akibatnya, individu tidak akan sepakat dalam reaksi mereka terhadap bahkan informasi yang sama. Misalnya, investor mungkin lebih suka putaran aktiva dan kewajiban perusahaan tertentu pada nilai penggunaan dengan alasan bahwa hal ini akan membantu untuk memprediksi masa depan perusahaan kinerja investor lainnya mungkin kurang positif terhadap segala bentuk akuntansi nilai sekarang mungkin karena mereka merasa bahwa informasi nilai sekarang diandalkan atau hanya karena mereka digunakan untuk informasi biaya historis. Selanjutnya, manajer yang harus melaporkan nilai saat ini akan bereaksi cukup negatif. Manajemen biasanya objek untuk inklusi keuntungan dan kerugian akibat perubahan nilai aset dan kewajiban dalam laba bersih berdebat bahwa item ini memperkenalkan volatilitas yang berlebihan dalam pendapatan, yang belum direalisasi tidak mencerminkan mencerminkan kinerja mereka dan tidak boleh termasuk ketika mengevaluasi hasil usaha mereka. Argumen ini mungkin agak egois karena bagian dari manajemen. Pekerjaan ini ini untuk mengantisipasi perubahan nilai dan mengambil langkah untuk melindungi perusahaan dari dampak buruk dari perubahan ini Misalnya, manajemen dapat lindung nilai terhadap kenaikan. Dalam harga bahan baku dan perubahan suku bunga, Namun keberatan manajemen tetap sebagai hasil akuntan cepat tertangkap dalam cuaca melaporkan laba bersih harus memenuhi peran utama dari pelaporan informasi yang berguna untuk investor atau pelaporan tentang pendampingan manajemen dari perusahaan sumber daya. Untuk investor atau pelaporan tentang pendampingan manajemen dari perusahaan sumber daya. Dalam mempengaruhi keputusan juga mempengaruhi kerja pasar, seperti pasar sekuritas dan pasar tenaga kerja manajerial. Penting untuk efisiensi dan keadilan ekonomi itu sendiri bahwa pasar ini bekerja dengan baik. Tantangan bagi akuntan keuangan kemudian, adalah untuk bangkit dan makmur dalam lingkungan yang kompleks karakteristik oleh preferensi bertentangan berbagai kelompok yang berkepentingan dengan pelaporan keuangan. Buku ini berpendapat bahwa prospek untuk kelangsungan hidup dan kemakmuran akan meningkat jika akuntan memiliki kesadaran kritis dampak pelaporan keuangan pada investor, manajer dan ekonomi. Alternatif untuk kesadaran hanya menerima lingkungan pelaporan seperti yang diberikan. Namun, ini adalah strategi jangka pendek, karena lingkungan yang terus berubah dan berkembang. Peran Riset Akuntansi Sebuah buku tentang teori akuntansi mau tidak mau harus menarik pada penelitian akuntansi, banyak yang terkandung dalam jurnal akademik. Ada dua cara bahwa kita dapat melihat peran penelitian. Yang pertama untuk mempertimbangkan dampaknya pada praktik akuntansi. Misalnya, keputusan kegunaan pendekatan mendasari Bagian 1000 dari CICA Handbook dan Kerangka konseptual FASB di Amerika Serikat. Inti dari pendekatan ini adalah investor harus disertakan dengan informasi untuk membantu mereka membuat keputusan investasi yang baik. Satu hanya untuk membandingkan laporan tahunan saat sebuah perusahaan publik dengan yang dikeluarkan di 19605 dan sebelum melihat peningkatan luar biasa dalam pengungkapan selama 40 tahun atau lebih sejak kegunaan keputusan resmi menjadi konsep penting dalam teori akuntansi. Namun, peningkatan pengungkapan tidak "terjadi begitu saja", seperti diuraikan dalam bagian 1.2 didasarkan pada penelitian fundamental dalam teori pengambilan keputusan investor dan teori pasar modal yang telah membimbing akuntan dalam apa informasi yang berguna. Selanjutnya teori, telah mengalami pengujian empiris yang luas, yang telah menetapkan bahwa rata-rata investor menggunakan informasi akuntansi keuangan sebanyak teori memprediksi. Terlepas dari apakah itu mempengaruhi praktek saat ini, bagaimanapun, ada pandangan penting kedua dari peran penelitian. Hal ini untuk meningkatkan pemahaman kita tentang lingkungan akuntansi yang kami nyatakan di atas tidak harus diambil untuk diberikan. Misalnya, penelitian fundamental dalam model resolusi konflik khususnya lembaga model teori telah meningkatkan pemahaman kita tentang kepentingan manajer dalam pelaporan keuangan peran rencana kompensasi eksekutif dalam memotivasi dan mengendalikan operasi manajemen perusahaan dan cara di mana rencana tersebut menggunakan informasi akuntansi. Ini pada gilirannya menyebabkan peningkatan pemahaman kepentingan manajer dalam pilihan kebijakan akuntansi dan mengapa mereka mungkin Ingin bias atau memanipulasi laba bersih yang dilaporkan atau setidaknya memiliki beberapa kemampuan untuk mengelola “garis bawah”. Penelitian seperti ini memungkinkan kita memahami isu-isu tata kelola perusahaan seperti batas-batas peran manajemen yang sah dalam pelaporan keuangan. Fundamental Masalah Teori Akuntansi Keuangan Mengingat tidak adanya konsep akuntansi yang sempurna atau waktu ternyata ukuran yang paling berguna dari laba bersih untuk menginformasikan investor. Yaitu, untuk mengontrol adverse selection tidak perlu sama dengan ukuran terbaik untuk memotivasi kinerja manajer, yaitu untuk mengontrol moral hazard. Hal ini diakui oleh Gjesdal (1981). Kepentingan investor terbaik dilayani dengan informntlon yang memungkinkan keputusan investasi yang lebih baik dan pasar modal operasi yang lebih baik. Memberikan itu cukup dapat diandalkan, akuntansi nilai sekarang memenuhi peran ini, karena memberikan informasi terkini tentang aset dan kewajiban, maka kinerja perusahaan di masa depan, dan mengurangi kemampuan instders untuk mengambil keuntungan dari perubahan nilai aktiva dan utang. Kepentingan manajer yang sah dilayani dengan informasi yang sangat informatif tentang kinerja mereka dalam menjalankan perusahaan, karena ini memungkinkan kontrak kompensasi yang efisien. Ini adalah peran kepengurusan pelaporan keuangan, salah satu konsep tertua dalam akuntansi. Sedangkan akuntansi nilai wajar dapat meningkatkan pelaporan tentang pendampingan, juga dapat mengganggu. Nilai saat ini yang tersedia, mungkin lebih dipengaruhi bias dan manipulasi oleh manajer daripada informasi berbasis biaya historis. Kedua efek ini mengurangi informasi laba tentang manajer pelayanan. Sehingga dari perspektif manajerial pendapatan kurang dan lebih konservatif seperti berdasarkan biaya historis atau setidaknya ukuran yang mengecualikan keuntungan yang belum direalisasi tertentu dan kerugian, mungkin lebih memenuhi peran memotivasi dan mengevaluasi manajer. Mengingat bahwa hanya ada satu garis bawah, masalah mendasar dari teori akuntansi keuangan adalah bagaimana merancang dan mengimplementasikan konsep dan standar bahwa perdagangan terbaik dari investor - informasi dan kinerja manajer mengevaluasi peran untuk informasi akuntansi. Beberapa kebijakan tersebut membutuhkan timbal balik antara peran ini, seperti dalam nilai arus terhadap akuntansi biaya historis yang baru saja dijelaskan. Kebijakan lain, seperti pengungkapan diperluas dapat memfasilitasi kedua peran.